The Farewell-Perpisahan Bukanlah Sebuah Akhir

The naked traveler8

Catatan; Naskah ini juga sudah diterbitkan di harian Jawa Pos-Radar Mojokerto Minggu, 10 Februari 2019.

Berwisata bagi sebagian orang tidak hanya sekedar melepas penat. Tapi untuk mendapatkan pengalaman dan tantangan baru. Rupanya, pesatnya teknologi ditandai dengan maraknya penggunaan media sosial membawa pengaruh bagi para pelancong. Seperti, traveller zaman sekarang, lebih banyak mendapat inspirasi tujuan piknik dari Instagram, Facebook, Twitter dan Youtube.

The Naked Traveler (TNT) edisi 8 menyoroti fenomena hilangnya heroisme saat beperjalanan di masa sekarang. Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) ini muncul karena karakter generasi yang tidak lepas dari gawai dan media sosial. Menurut tim peneliti dari University of Essex, konsep ini merujuk pada kekhawatiran jika melihat orang lain terlihat lebih bahagia dan merasakan kepuasan yang lebih besar daripada mereka, sehingga timbul keinginan untuk tetap terhubung dengan media sosial secara terus-menerus, terutama untuk mengetahui apa yang orang lain lakukan (hal 11).

Dulu, tujuan wisata untuk mengeksplorasi, mempelajari budaya baru, berkenalan dengan orang lokal-atau bahkan bertujuan romantis untuk ”menemukan diri” (halaman 12). Sekarang, gaya berpiknik para wisatawan justru berbeda jauh. Ketika di lokasi wisata, para pelancong milenial lebih fokus berebut spot untuk berfoto dan merekam video. Pemandangan orang berlarian dan berebut lokasi foto agar tidak keduluan traveler lain juga sering terlihat. Bukannya menikmati pemandangan yang tersaji di depan mata.

Buku yang merupakan edisi terakhir dari seri TNT sebelumnya ini berisi kisah-kisah penulis ketika bertualang ke banyak tempat. Sejak awal kemunculannya, buku ini bergerak seiring perubahan zaman. Menyesuaikan dengan tipikal pembaca.

Dibuka dengan bab Traveling Dulu dan Sekarang, penulis menyampaikan adanya pergeseran karakter traveler sejak dia mulai mengenal travelling. Trinity sudah melakukan perjalanan sejak kecil. Mulai dibolehkannya merokok di atas pesawat hingga era telepon seluluer dan media sosial.

Bagi penulis, perjalanan dengan segala pengalaman di jalan menarik untuk didengar dan dituliskan, apalagi sampai membuat orang lain terinspirasi. Cerita-cerita itu bisa menjadi oleh-oleh mengesankan dan abadi dibandingkan jika membawa benda-benda sebagai buah tangan.

The Naked Traveler edisi 8 menjadi pamungkas dari seri TNT yang sudah terbit kali pertama pada 2007. Buku ini dikebut agar segera terbit dan dibaca oleh para penggemar. Dalam buku ini penulis menuturkan membagi cerita mulai dari negara yang terdengar akrab di telinga kita sampai tempat asing ditelinga. Padahal, tempat itu berada di negeri sendiri, Indonesia, dan sudah mendapat pengakuan dunia.

Anambas. Begitu nama pulau yang terletak di provinsi Kepulauan Riau itu. Berada di tengah laut antara Sumatera dan Kalimantan. Penulis baru mendengar tentang pulau ini di tahun 2012 saat CNN menyebut Anambas sebagai salah satu dari Asia’s top five tropical island paradise (halaman 78).

Penulis di dalam buku ini juga banyak bercerita tentang kunjungannya ke negara-negara Islam di Timur tengah, salah satunya Yordania. Di negara yang berbatasan dengan Arab Saudi, Suriah, Irak, Israel dan Palestina ini meski dekat wilayah konflik, namun paling aman se-Timur Tengah.

Selain itu, umat Kristiani juga bisa ke Yordania untuk wisata religi. Di sana, ada situs penting yang tertulis dalam alkitab. Ada kawasan Bethany Beyond the Jordan yang masuk dalam daftar warisan dunia oleh UNESCO pada 2014. (hal.103)

Anggapan orang berkunjung ke negara Islam yang dekat dengan wilayah konflik dan teror pun dipatahkan penulis saat kunjungannya ke Iran. Pengikut di Instagram sebagian ada yang berkomentar bahwa mengunjungi Iran itu berbahaya. Penulis juga sempat heran yang dimaksud bahaya itu yang mana? Yang saya amati, masjid-masjid di Iran itu luar biasa cakepnya. Baru kali itu saya lihat masjid sampai nganga! (hal.108)

Di Iran penulis juga mengamini disebut dalam buku panduan perjalanan Lonely Planet. Bahwa yang menarik ketika piknik ke Iran adalah karakter penduduknya. Bukan destinasi wisatanya. Ketulusan orang-orang di Iran membuat kesan yang mendalam bagi penulis. Tak jarang kami diajak mampir ke rumah orang lokal. Kalaupun orang tersebut dari luar kota, mereka dengan senang hati memberikan alamatnya sambil berpesan, “kalau kalian ada waktu, mampir ya ke rumah kami!” Bahkan, beberapa kali kami dikasih makanan kecil yang mereka bawa (halaman 109). Perjalanan mengunjungi negara-negara Islam pun berlanjut, padahal penulis sempat takut mengunjungi negara-negara Islam karena beberapa aksi terorisme dunia yang mau tidak mau harus diakui dilakukan oknum organisasi Islam.

Namun, pandangan penulis terhadap negara Islam justru berubah setelah melakukan perjalanan ke Iran. Meski sebagian orang menganggap mereka menganut aliran yang berbeda, justru negara itulah penulis merasa aman dan nyaman. Perjalanan ke negara-negara asia tengah (Kirgistan,Tajikistan dan Uzbekistan) membuatnya salut dengan penerapan Islam di sana (halaman 118).

Di buku ini, juga dituliskan bagaimana cara packing yang benar dan tidak menyusahkan selama perjalanan. Memang benar, dalam memulai perjalanan, proses awal ini lah yang cukup menentukan perjalanan bakal nyaman atau nggak. Pemberian tips ala penulis ini dimaksudkan agar memudahkan traveller newbie karena perkara packing seperti terlihat gampang, tapi ternyata masih banyak orang yang merasa bermasalah. Misalnya,keberatan bagasi atau kebanyakan bawa baju, padahal tidak terpakai (halaman 42).

Ibrahim Sapta Nugraha, alumni Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Spread the love

Comments

  1. Rohyati Sofjan

    Resensinya bagus. Menarasikan cuplikan kisah yang dialami Trinity. Kayak mengajak pembaca terlibat langsung dalam perjalanan. Menjelajahi negara Islam itu malah ternyata menyenangkan. Semoga negara Islam di Timur Tengah tetap aman dan damai agar lebih banyak lagi pelancong yang melanglanginya.

    1. Post
      Author
      mainbentar

      Halo Rohayati,

      Iya, saya bacanya aja sempat kaget lohhh. Memang sih, ada ketakutan beberapa orang, kalo passportnya sudah dapet cap negara-negara yang “diidentikkan” dengan terorisme, akan susah masuk ke negara di benua amerika dan eropa.

Jangan lupa meninggalkan komentar. Karena komentar yang kamu tinggalkan, memberi harapan baik untuk blog ini :)