Destinasi Wisata

Tersesat Dalam Indahnya Sumba Bikin Kita Malas Pulang

Hai Teman Main, apa kabar? Kali ini, saya ingin berbagi cerita pengalaman selama di Sumba. Keindahan alam Sumba dan budaya yang masih terjaga, emang pantas buat didatangi. Gak heran juga kalo Sumba mendapat peringkat pertama sebagai pulau terindah di dunia dari majalah Focus. Majalah travel dari Jerman dengan oplah lima juta.

Pagi kami berangkat via bandara I Gusti Ngurah Rai-Bali. Rencananya, kami akan mengeksplorasi Sumba selama 4 hari 3 malam. Gak sabar pengen berbagi keseruan.

Perjalanan udara yang menempuh waktu sekitar 1 jam dan alhamdulillah mendarat dengan selamat di Bandara Umbu Mehang Kunda di Waingapu. Sebenernya agak-agak salah rute sih ini, ahahaha. Karena kebanyakan yang traveling ke Sumba, biasanya memulai dari Tambolaka-Sumba Barat lalu pulang via Waingapu-Sumba Timur atau sebaliknya.

Karena teledor dan buru-buru memesan tiket, jadi datang-pulang via Waingapu. Ya sudah, nikmati saja perjalanan ini.

Saat sampai di Waingapu, kami dijemput oleh supir yang sebelumnya sudah dipesan oleh salah satu teman. Selama beberapa hari, supir ini yang akan menemani kita mengeksplorasi Sumba. Karena ini adalah pengalaman pertama kami mengunjungi Sumba, jadinya kita benar-benar nikmati perjalanan ini. Setelah beres mengatur tas dan bawaan lain di mobil, kita langsung berangkat menuju Sumba Barat.

Kesan Pertama Dan Godaan Kain Tenun Ikat Sumba

Infrastruktur jalan di Sumba menurut saya bagus banget. Aspal mulus selama perjalanan dan pemandangan yang gak habis-habisnya bikin kita teriak-teriak kegirangan. Indah banget! Semakin heboh saat kami mampir di Pasar Waingapu untuk membeli kain tenun ikat khas Sumba. Wah gila, beberapa temen ada yang memborong banyak kain, “buat foto-foto selama di Sumba, biar ciamik!” katanya.

Sayapun ikut kehebohan belanja, tapi gak banyak, takut kelebihan bagasi. Gak ada duit juga seh. Oh iya, ada tips buat kamu yang berniat membeli kain ikat di pasar Waingapu, kalo kamu ingin membeli kain yang besar tawar dulu setengah dari harga yang pertama disebutkan penjual. Biasanya kain-kain yang lumayan besar itu harganya Rp 350.000,-

Dalam perjalanan menuju Sumba Barat, kami mampir ke Bukit Wairinding, salah satu destinasi wajib, jika kamu liburan ke Sumba. Pokoknya bikin merinding! saking bagusnya.

bukit warinding sumba

Bukit yang ngehits banget di Instagram. Apalagi foto pake tenun ikat Sumba, makin unch! Dok; mainbentar

Gak terlalu lama kami di Bukit Wairinding ini, mengingat kami harus melanjutkan perjalanan sekitar 4 jam, ke Sumba Barat Daya. Yup, perjalanan makin misleg karena hotel yang dipesan berada di Sumba Barat Daya, lebih jauh dari perjalanan ke Sumba Barat aja, gak pake ‘daya’.Walaupun begitu, karena baru sekali ke Sumba ya nikmat-nikmat aja selama perjalanan. Sepanjang jalan saya melihat rumah-rumah orang Sumba yang tak berpagar dan ada kuburan besar banget di halaman rumahnya. Menyerupai seekor kerbau.

Karena saking jauhnya (syukurnya jalanan mulus) kita sampai di Hotel Sinar Tambolaka malam hari. Lelah? sudah pasti. Tapi tetap semuanya heboh saat di kamar membuka belanja masing-masing dan membayangkan keseruan esok hari, mengeksplorasi Sumba Barat dan berfoto dengan kain-kain tenun ikat.

Hari Kedua Di Sumba

Di hari kedua ini, kami berencana mengunjungi desa adat yang ada di Sumba Barat dan mengunjungi laguna yang cantik. Karena jarak dari satu destinasi ke destinasi lainnya berjauhan, kami disarankan oleh supir, untuk memesan nasi kotak sebagai bekal makan siang kami. Bisa jadi tips buat kamu juga, kan, kalo berencana liburan ke Sumba.

Tujuan pertama kami adalah desa Ratenggaro, sebuah desa adat yang cukup tua di Sumba Barat. Perjalanan sekitar 2 jam dari hotel dan melewati padang rumput luas, kami juga sempat melewati lapangan tempat Festival Pasola diadakan.

Sampai di desa adat Ratenggaro kami dibuat terpukau sekaligus takut. Terpukau karena keindahan rumah-rumah adat di Ratenggaro, dan takut, karena yang mengaku ‘ketua adat’ di sana jadi rada rese’ gitu, marah-marah karena kami membawa kain tenun ikat sendiri untuk berfoto di sana.

Selalu Ada Pesan Dari Setiap Perjalanan

Kita yang baru pertama kali ke Sumba, mana paham yak, mana Tenun Ikat Sumba Timur atau Barat. Jadi kita gak boleh berfoto dengan kain ikat yang kita bawa. Kita disarankan buat membeli atau menyewa kain tenun ikat yang sudah mereka buat. Dan supir kami juga baru tau tentang hal ini, agak kesel juga sih doi.

Ratenggaro Sumba

Ini bapak-bapak” ketua ” desa adatnya. Sangar juga seh. Dok; mainbentar

Disamping hal-hal yang ngeselin itu (biasalah ya, drama perjalanan) selalu ada hal yang mengingatkan kita untuk bersyukur. Jadi, sebelum pergi ke Sumba, saya disarankan sama teman yang sudah lebih dulu mengunjungi desa-desa adat yang ada di Sumba, untuk membawa buku-buku bacaan atau alat tulis.

Sedikit Tips Buat Kamu

Jika berencana ke desa adat, disarankan (supir saya juga menyarankan) untuk memberikan buku atau alat tulis saja. kepada anak-anak di desa adat kadang suka meminta, kepada wisatawan yang datang. Syukurnya saya sempat membawa beberapa koleksi-koleksi buku dan pensil warna yang sudah lama menganggur di lemari. Jadi lega dan ada alasan buat belanja buku. Teteep.

Ratenggaro Sumba

Anak-anak ini seneng banget, waktu mereka meminta uang dan permen kepada saya, dan saya bilang, saya gak punya uang, tapi saya punya buku untuk mereka. Dok; mainbentar

Dari desa adat ini, kami menuju laguna yang cantik banget. Terbentuk dari air laut yang merembes melewati celah dinding karang, menjadi danau dengan air payau yang tenang. Di danau ini, kamu bisa berenang dan kalo kamu berani, bisa menguji adrenalin melompat dari menara yang ada di sana. Di sekitar danau ini, banyak juga pedagang kain tenun dan pernak-pernik khas Sumba.

Wekuri Lake Sumba

Kamu bisa jajal adrenalin kamu, melompat dari menara di Danau Wekuri. Dok; mainbentar

Demi melihat kain-kain itu , beberapa teman heboh belanja kain tenun, lagi. Alasannya sih, karena belum punya tenun dengan motif khas Sumba Barat, saya juga gak terlalu paham sih bedanya di mana, mungkin motif Sumba Timur lebih kecil-kecil ketimbang motif tenun Sumba Barat? Barangkali.

Lalu kami menuju Pantai Waikelo, letaknya ternyata tak jauh dari tempat kami menginap. Pantainya emang gak heboh banget sih, karena di sini juga menjadi dermaga kapal dan jauh dari harapan pantai di sumba yang sering kamu lihat di instagram. Pantai sederhana, dengan kesederhanaan pengunjungnya, tapi punya pesona sunset yang asik. Sambil menikmati segelas teh hangat dan kudapan, kami memastikan lagi itinerary kita untuk besok dan lusa. Sampai matahari terbenam dan pulang ke peraduan, kami pun kembali ke hotel.

Kembali Ke Sumba Timur

Di hari ketiga, dari rencana perjalanan yang disusun, dalam perjalanan pulang, saya sempat meminta supir untuk mampir sebentar melihat kuburan yang ada di depan rumah. Jadi menurut informasi yang saya dapatkan, mengapa orang Sumba menaruh kuburan keluarga mereka di depan rumah, dengan harapan, para tetua dan generasi berikutnya bisa saling “menyapa” dan warisan sebuah rumah dan tanah bisa diwariskan secara turun-temurun ( karena tidak ada orang yang mau membeli rumah yang ada kuburannya).

Kuburan keluarga di Sumba

Ini salah satu rumah warga yang sempat saya sambangi, saking penasaran sama kuburan di depan rumah mereka. Dok; mainbentar

Saya juga sempat diajak masuk untuk melihat tengkorak-tengkorak kerbau yang dipotong untuk upacara adat kematian, jadi untuk upacara kematian, wajib memotong satu kerbau dan babi. Sungguh menelan biaya sangat besar untuk sebuah upacara kematian. Jika tak punya kerbau untuk dipotong, maka keluarga lainnya akan meminjamkan atau istilahnya menyumbang dan keluarga yang di-sumbang, suatu saat harus menyumbang balik seekor kerbau jika ada keluarga yang meninggal.

sumba

Tengkorak kerbau dan babi bekas upacara.Dok; mainbentar

Jadi, orang Sumba jika memelihara babi atau kerbau biasanya untuk persiapan mereka jika ada tetua dari keluarga mereka yang meninggal. Dan kamu bisa bayangkan, satu ekor babi saja, jika dijual bisa mencapai harga 15 juta! Saya pun lalu berpamitan dan berterima kasih sudah dibolehkan memotret dan diberikan informasi sedikit tentang budaya Sumba. Perjalanan kami lanjutkan kembali.

Mampir Bentar Ke Desa Praijing

Kami singgah sebentar di Desa Adat Praijing dan berkeliling salah satu desa adat di Sumba yang juga banyak dikunjungi wisatawan. Dari kunjungan semua desa adat yang ada di Sumba, hal yang paling ngeselin adalah, kalo ada orang (biasanya bapak-bapak) yang mengaku sebagai ketua adat. Gak tau juga ya, mereka itu ketua adat beneran atau bukan, yang jelas kadang mereka suka minta duit gitu. Saya juga sempat ngobrol sama salah satu warga, tentang listrik di desa adat ini. Ternyata dari pemerintah sudah pernah dibangun solar panel bebrapa tahun lalu, tapi sekarang sudah tidak berfungsi lagi. Jadi warga harus berbagi listrik dari rumah yang sudah teraliri listrik dari PLN.

Rencananya, kami akan singgah sebentar untuk makan siang di sebuah air terjun dengan jalur yang bersahabat di Air Terjun Lapopu. Salah satu air terjun yang cukup banyak didatangi wisatawan karena mudah dicapai dibandingkan air terjun lain yang ada di Sumba.

Untuk mencapai air terjun ini, kita harus berjalan kaki sekitar 300 meter. Aliran air dari air terjun Lapopu bakal menemani kamu, dan ada jembatan kayu yang bikin deg-degan juga karena saat akan melewatinya, saya juga agak-agak ga yakin sih, karena jembatannya terbuat dari bambu yang disusun, dan bergoyang-goyang manja saat kita lewati. Dan maksimal cuma 2 orang sekali lewat.

Menikmati makan siang di tempat indah ini, bikin kita tambah lahap. Beberapa teman dan supir ikut mandi dan menikmati sejuknya air terjun. Yang tidak ikut main air, ya foto-foto saja, karena tempat ini instagramable banget.

Lapopu Waterfall Sumba

Ini jembatan menuju ke air terjun. Dok;mainbentar

lapopu waterfall sumba

Berpose di air terjun Lapopu. Dok: mainbentar

Puas? tentu saja belum, karena kami masih harus melanjutkan perjalanan menuju Sumba Timur, akhirnya kami sudahi kesenangan di Air Terjun Lapopu.

Mengejar Matahari Terbenam Di Walakiri

Berangkat lagi menuju Pantai Walakiri dan menikmati pesona matahari tenggelam, yang gak boleh dilewatkan. Sejak Mira Lesmana mengunggah Pantai Walakiri di akun instagramnya, tempat ini menjadi terkenal dan jadi buruan para instagramer.

Demi mengejar sunset di Walakiri, supir kami ngebut seada-adanya. Karena, untuk menikmati Pantai Walakiri, harus saat matahari tenggelam saat air sedang surut. Kita bisa berjalan kaki sampai ke pohon-pohon bakau. Emang keren banget sih Pantai Walakiri waktu kita ke sana. Walaupun matahari terbenam gak bulat utuh, kayak yang sering kamu liat waktu liburan ke Bali, Pantai Walakiri tetap punya pesona magisnya.

Sepertinya saya harus membuat gallery sendiri untuk foto-foto yang saya ambil di Walakiri, aslik keren banget tempat ini.

Walakiri beach sumba

Pantai Walakiri. Dok; mainbentar

Lepas maghrib dan suasana mulai gelap, kami dengan tumpukan koper yang masih ada di bagasi, menuju hotel tempat kami tinggal selama di Sumba Timur.

Padadita Beach Hotel, dan kami akan menginap selama dua malam di sini. Hotel yang cukup luas dan ada pantai di belakangnya. Ya walaupun bukan pantai berpasir putih seperti di resort-resort mewah gitu, tapi lumayan banget bisa menikmati sunrise di sini.

padadita beach hotel sumba

Sumba Timur Yang Bikin Bersyukur

Beres menikmati matahari terbit, kami bergegas menuju Kampung Rende, sebuah kampung adat tertua dan masih ada seorang ratu yang memimpin desa ini. Di sini, kamu bisa melihat kuburan megalitik yang bikin kagum dan jadi mikir gimana cara orang-orang jaman dulu membuat kuburan, sebelum teknologi se-canggih saat ini.

Beberapa anak kecil mengerubungi kami saat hendak meninggalkan desa ini, karena sudah terbiasa dari pengalaman beberapa hari di Sumba, kami sudah menyiapkan permen dan biskuit untuk dibagikan, senang sekaligus terharu. Senang karena bisa berbagi sedikit kebahagiaan kecil dengan mereka, terharu karena saya diajarkan untuk bersyukur, bahwa hidup yang saya jalani selama ini, begitu mudahnya. Jadi pengingat untuk saya kalau ingin mengeluh saat mendapat masalah.

Dari kampung Rende, supir membawa kami menuju Pantai Walakiri untuk menikmati makan siang di sana. Perlu kamu ingat, kalo di Sumba ini, sangat jarang warung-warung atau resto, Jadinya kita sudah menyiapkan nasi kotak yang kita pesan sehari sebelumnya. Di perjalanan dari Rende ke Walakiri,pemandangan bukit dan sabana sepanjang perjalanan keren banget, saya rasa di Sumba ini, semua spot instagramable!

Ternyata, Pantai Walakiri sangat berbeda waktu siang hari. Saat siang, air laut pasang dan pohon-pohon bakau tenpat kami berfoto kemarin juga ikut tenggelam. Tapi Pantai Walakiri saat siang punya pesona sendiri. Mirip pantai-pantai perawan yang sepi dan jarang dikunjungi orang, indah banget. Cukup lama kami berada di sini, menikmati angin sepoi-sepoi dan pemandangan laut aduhai.

Pantai Walakiri Sumba


Pada siang hari, pemandangan di Pantai Walakiri juga mempesona. Dan pohon bakau yang kemarin bisa saya lihat dari dekat, tenggelam pada siang hari. Dok; mainbentar

Rara Yang Membuat Kita Tak Banyak Bicara

Rencananya, setelah ini kami kan menuju Bukit Rara, di mana saat kami sampai di sana, saya sampai bengong-bengong looh, ini kita di Indonesia apa bukan sih, edan…, beda banget!!
Betah banget kami di sini, pemandangan-nya emang gila sih. Walaupun matahari lagi bersinar terik, tapi angin sepoi-sepoi menemani kami menikmati indahnya Bukit Rara. Emang gak ada apa-apa sih, cuma ada hamparan padang ilalang luas dengan background perbukitan yang meliuk-liuk, tapi bikin hati ayem banget rasanya.

Epic banget di Bukit Rara. Sumba

A post shared by mainbentar.com (@mainbentardotcom) on

Cukup lama kami berfoto dan menghabiskan waktu di Bukit Rara ini. Menjelang sore, kami pulang ke hotel untuk beristirahat dan berkemas, karena esoknya kami akan pulang. Malamnya, setelah selesai berkemas, kami bersantai di restoran hotel menikmati sebotol bir dingin dan berbincang tentang keseruan-keseruan daerah mana lagi yang akan kita eksplorasi. Tapi, bagaimanapun saya masih penasaran untuk mengeksplorasi Sumba, suatu saat saya pasti akan kembali ke Sumba.

Terima kasih Teman Main, sudah membaca catatan perjalanan ini. Jika kamu anggap tulisan ini bermanfaat, jangan lupa subcribe dan bagikan ke teman-teman kamu ya. Sampai jumpa, salam.

Spread the love

5 Comments Tersesat Dalam Indahnya Sumba Bikin Kita Malas Pulang

    1. mainbentar

      Halo Winny,

      Terima kasih sudah mampir. Iya, beneran indah banget tempat ini. Gak nyangka kalo ternyata ada pulau seindah ini di Indonesia. Aslik, bikin males balik!

Jangan lupa meninggalkan komentar. Karena komentar yang kamu tinggalkan, memberi harapan baik untuk blog ini :)