Tempat

Mengejar Sunrise Di Gunung Batur

Ini adalah kali kedua saya mengunjungi Gunung Batur, karena kunjungan saya yang pertama tidak sempat terdokumentasi dengan baik, jadi di kesempatan kedua ini saya ingin mengabadikan-nya, sebaik mungkin. Kali kedua berlibur ke Gunung Batur, perencanaan yang saya dan teman buat, lebih tertata.

Karena yang kami kejar adalah pemandangan matahari terbit di Gunung Batur, kami pikir kenapa tidak menginap saja semalam di sekitar Gunung Batur, toh banyak penginapan yang cukup memadai daripada harus bangun pagi buta dan menempuh jarak yang cukup jauh dari Denpasar tempat kami menginap, menuju Gunung Batur. Lumayan kan, waktu 2 jam lebih, bisa kita pangkas karena kita menginap tidak jauh dari pos masuk Gunung Batur.

Mari Kita Mulai Perjalanan ini

Sepulang saya bekerja, karena Sabtu kerja setengah hari (anjay, masih ada looh yang 6 hari kerja) saya dijemput partner jalan saya menempuh perjalanan. Mengambil jalur via Pass Ida Bagus Mantra, mobil kami melesat di jalan mulus, semulus pantat bayi, mengikuti petunjuk arah menuju wilayah Bangli. Tidak tergesa-gesa kami berkendara santai sambil menikmati camilan dan redup-redup suasana sunset dan pemandangan Pantai Lebih sepanjang jalan.

sekitar satu jam berikutnya, kami sudah sampai di wilayah Desa Kedisan yang dekat dengan penginapan kami. Di sepanjang jalan,kami disuguhi pemandangan hamparan luas batu-batu hasil letusan Gunung Batur yang telah lama dan membentuk bukit-bukit yang pastinya instagram-able. Saya dan parter jalan, berhenti di parkiran yang disediakan warga dan dikelola secara swadaya, cukup bayar seikhlasnya di kotak yang tersedia di lahan parkir itu. Mendokumentasikan keindahan yang kami temui, dengan foto-foto kece dan footage-footage ala travel blogger kiwari (kekinian).

di kaki gunung batur

Dua Kemewahan Di Penginapan Kami

Gak terlalu lama sih kami berada di tempat ini, karena teman kami yang sudah lebih dulu sampai, agak kesulitan menemukan penginapan yang sudah kami pesan. Ya sudah, akhirnya kami beranjak dan menentukan titik untuk bertemu dan menuju ke penginapan. Padahal tempatnya tak terlalu jauh juga dari titik kami bertemu.

Lakeside guest house memang bukan penginapan yang mewah, dengan manajemen keluarga yang jauh dari sistem tempat saya bekerja, tapi pemandangan dan fasilitas guest house ini sudah mewah banget buat kami yang tidak bisa menikmatinya tiap hari. Ada kolam renang air hangat yang bersumber dari mata air alami, dan pemandangan Gunung Batur tepat berada di depan kamar kami. Menakjubkan.

Baca Juga : 11 Hotel Dengan Kolam Renang Instagramable Di Bali Seharga 500 Ribuan

kolam-renang-air-hangat


Salah satu kemewahan yang gak bisa kita nikmati setiap hari. Berenang di kolam air hangat. Dok; mainbentar

gunung batur batur dari lakeside guest house


Kemewahan lainnya yang bisa dinikmati dari teras kamar. Dok; mainbentar

Sambil menikmati senja yang tertutup kabut, sebotol wine dan kudapan-kudapan kecil menemani sore kami saat itu. Benar-benar liburan yang terencana sekali. Berbincang menikmati gelas demi gelas wine yang kami bawa, gak sadar sudah dua botol kandas. Mungkin karena udara sejuk di sekitar kami juga ya, yang membuat kami sangat menikmati wine yang kami bawa. Tamu penginapan lain, yang juga menginap, rupanya juga melakukan hal yang sama, saya lihat beberapa ada yang membawa wishky, ya cocok sih ama cuaca di penginapan kami.

Jam 8 malam. Badan kami menjadi relaks karena efek minuman yang kami nikmati sore ini. Kami pun sepakat untuk kembali ke kamar masing-masing dan bangun pukul 3 pagi untuk bersiap menuju Gunung Batur. Alarm yang sudah kami atur di gawai kami pun akhirnya berbunyi, membangunkan kami dari tidur super nyenyak.

Mendaki Menuju Keindahan Gunung Batur

Menyiapkan peralatan dan perbekalan untuk naik gunung, dan kami saling mengabari satu dan lainnya untuk bertemu di parkiran mobil. Melakukan pemanasan sebentar, agar otot tidak kaget dan menghindari kram saat mendaki nanti, lalu mobil kami bergerak menuju pintu masuk Taman Nasional Gunung Batur. Sunrise masih 2 jam lagi, tak terlalu terburu-buru kami berkendara. Dua puluh menit kemudian, kami sudah sampai di pintu masuk. Sudah ramai para pengunjung yang bersiap mendaki Gunung Batur. Setelah membayar tiket masuk ke Taman Nasional Gunung Batur sebesar Rp 430.000 untuk 4 orang, kami mulai menyusuri jalan aspal naik menuju pendakian bersama pemandu kami. Jadi biaya yang kami bayar sudah termasuk biaya pemandu.

Kalo kamu mau memberikan tip saat turun nanti, itu tergantung kebaikan hati kamu aja.

Tiket Masuk : Rp 7.500/orang

Biaya Guide : Rp 400.000 untuk satu orang pemandu

Pos pelayanan pendakian Gunung Batur


Here we are!

mendaki di gunung batur


Masih dengan senyum ceria. Dok; mainbentar

Kami menyusuri jalan, bersama rombongan wisatawan lainnya, kebanyakan wisatawan yang datang, berasal dari mancanegara. Tak heran jika banyak wisatawan mancanegara yang datang. Pasti rasa penasaran mereka yang besar untuk menyaksikan keindahan Gunung Batur yang sudah ditetapkan UNESCO pada tahun 2012 menjadi Geopark Dunia Pertama Di Indonesia. Kita boleh bangga untuk ini.

Ada hal lucu di tengah perjalanan kami, pemandu yang bersama kami baru memberi tahu bahwa sebenarnya perjalanan kami menyusuri jalan aspal menuju pendakian bisa ditempuh menggunakan kendaraan bermotor bahkan mobil. Teman saya, mungkin karena malas jalan dan gak mau repot (pikirnya) hampir memutuskan untuk kembali ke pos pertama untuk mengambil mobil. Gila, udah setengah jalan, nanggung banget yeeekan. Lah, namanya juga mau mendaki gunung, ya itung-itung pemanasan aja lah ya, nyusur jalan aspal. Akhirnya teman saya mengurung-kan niatnya. Yeaay!

Lelah Yang Terbayar

Sekitar dua jam kami mendaki, lelah dan ngos-ngosan sudah pasti. Tapi kalo naik gunung, terus bergerak dan mendaki adalah hal yang harus dilakukan supaya kita gak kedinginan. Tapi yakin lah, segala lelah dan ngos-ngosan bakal hilang dan digantikan dengan pemandangan indah saat sudah sampai di pemberhentian kedua. Garis kuning di batas cakrawala yang super indah dan bikin siapa aja kangen buat balik ke gunung.

Di pemberhentian kedua ini, kami menyaksikan semburat matahari yang pelan-pelan naik. Sementara saya dan teman bersama anaknya, mengabadikan momen, teman yang satu lagi, sudah naik ke puncak paling tinggi bersama pemandu kami. Saya juga penasaran, gimana indahnya pemandangan di atas. Jadi saya putuskan untuk menyusul, sudah tanggung juga, kan. Di video ini saya ingin membagikan pengalaman indah saat saya mendaki puncak paling tinggi di Gunung Batur, semoga kamu bisa ikut merasakannya ya.

Semoga cerita mainbentar kali ini memberikan inspirasi buat kamu ya. Kalo kamu suka dengan cerita kali ini, jangan ragu untuk membaginya kepada teman kamu via tombol media sosial di bawah ini. Jangan lupa juga untuk meninggalkan komentar jika ada informasi yang ingin kamu tambahkan untuk cerita ini, siapa tahu teman-teman lain mendapat manfaat dari informasi yang kamu berikan. Sampai jumpa di cerita berikutnya ya Teman Main.

Astala vista!

Spread the love

2 Comments Mengejar Sunrise Di Gunung Batur

    1. mainbentar

      Wahhh, harus naik gunung, walaupun cuma sekali seumur hidup heheh, saya juga naik gunung yang masih termasuk gunung piknik aja, karena gak punya waktu banyak buat camping berhari-hari. Mudah-mudahan saya bisa ke Rinjani secepatnya.Pengen banget!

Leave A Comment