Wisata Sekitar Ubud Yang Patut Dikunjungi

Rencana yang sudah dirancang dari awal minggu, akhirnya bisa direalisasikan juga. Main ke daerah di sekitar Ubud.

Setelah mendapat izin tumpangan buat semalam, fix rencana ini jadi dieksekusi. yeaay!

Dari Jumat malam saya sudah ribet menata perlengkapan apa saja yang harus dibawa buat nanti di Ubud (yaelaaahh ribet amat, padahal cuma semalem doang..)

Dua t-shirt,  satu celana pendek, pakaian dalam, peralatan mandi dan alat-alat andalan untuk merekam gambar sudah masuk dalam dua tas bagasi motor.

Baca juga : Contin Flipper Bag-First Review

Karena Sabtu masih masuk kantor 🙁

Jadilah saya memulai perjalanan ini selepas jam kerja. Bernegosiasi dengan jam kerja akhir pekan yang gak terlalu efektif dan buang-buang energi (ahahha, malah curhat) Saya pacu motor saya menuju Ubud.

Yuk main bentar ke sisi lain Ubud, yang wajib kamu eksplorasi..

Ubud Sekilas Pandang 

Ubud memang masih menjadi tempat favorit para wisatawan baik dalam dan luar negeri. Tak terkecuali saya, yang selalu membayangkan suasana di Ubud saat penat dan rasa jenuh datang. Ubud yang sejuk, dan susana santai jika berada disana, sawah hijau menghampar. Membuat mata dan pikiran kembali segar.

Itu yang saya bayangkan selama perjalanan di atas motor.

Tapi pas saya nyampe di Ubud, ohhh emmm jiiiiii

Macica….alias Macet!!! Ubud mulai menjelma menjadi Kuta atau Canggu yang baru.

Ubud memang sudah mulai berubah, seiring perkembangan dari tahun ke tahun, dan semakin terkenalnya daerah ini. Ditambah orang-orang terkenal yang sering datang kemari dan memposting  di akun sosial media mereka.

Booom!!!  Dan Ubud semakin mendunia…..

Gak ada yang salah sih dengan semakin mendunianya Ubud, semua pasti ada dampak positif dan negatifnya. Selain menambah besar potensi ekonomi dan pendapatan masyarakat Ubud, Bertambah pula kemacetan di Ubud karena semakin banyak yang menuju kesana.

Ubud yang saya sambangi kali ini dalam sekilas pandang semakin menjadi komoditas, bus-bus pariwisata yang semakin banyak hilirmudik di sini dan semakin banyaknya merek-merek internasional yang membuka cabangnya di Ubud, menjadikan kota ini seperti kota internasional.

Membuat wisata di Ubud semakin terkomodifikasi dan tinggi untuk biaya tinggal di sini.

Dari sekilas pandangan diatas motor tadi, masih ada wilayah atau desa disekitar Ubud yang masih otentik dan menyimpan keindahan alaminya.

Surga Tersembunyi Itu Bernama Desa Kengetan

Sekitar 20 menit saya memacu kendaran saya menuju desa Kengetan, dari pusat kota Ubud.

Selepas matahari turun saya baru sampai di rumah teman saya, setelah nyasar bolak-balik gak karuan “dijebak” peta digital dengan tingkat akurasi yang rendah.

Dok: mainbentar
Burung-burung Kokoan yang pulang ke sarangnya saat hari sudah sore. Dok; mainbentar

Saya sampai saat burung Kokoan pulang ke sarang di belakang rumah teman saya. Oh iya momen pulangnya burung-burung Kokoan saat matahari terbenam,  juga menjadi salah satu atraksi baru yang banyak menarik wisatawan untuk datang ke Ubud. Ngeliat sunset sambil liatin burung-burung pulang ke sarangnya, berdua, aihhhh sedap nian…..

Tapi saat saya datang kesini awan gelap mulai datang.

droooop.

Dan malampun tiba. Udara sejuk desa Kengetan semakin terasa.

Sunyi dan tenang, khas suasana desa yang biasa saya rasakan saat mengunjungi rumah nenek saya di Luwuk-Sulawesi Selatan, saat saya masih kecil dulu. Niat saya untuk menginap di sini juga menjauh dari ramainya perkotaan dan hingar-bingar ponsel saya.

Berharap kedap sinyal di sini.

Sambil menunggu satu teman lagi yang akan menginap, secangkir kopi panas cukup untuk mengimbangi sejuknya udara malam ini.

Yuk, ke studio aja, Aku lagi nyelesaikan lukisan” ajak teman saya.

Aswino Aji sedang menyelesaikan lukisannya. Dok: mainbentar

Karena baru pertama kali ke rumahnya, penasaran juga bagaimana dia  bekerja di studio lukisnya.

Baca juga: Hari Minggu Yang Artsy

Tak lama, teman yang ditunggu datang juga. Membawakan makanan untuk kami. Kegiatan seni malam ini terhenti, karena perut lapar (hahahaha).

Ngobrol sambil makan malam dengan teman itu memang menyenangkan, dan mengenyangkan.

Malampun semakin larut, tapi kantuk tak juga datang, saking asiknya ngobrol  dan segelas lagi  kopi panas diatas meja.

Sudah tengah malam….

Demi rencana mengejar momen matahari terbit besok pagi, akhirnya kita putuskan untuk tidur saja.

Pagi di Ubud
Kabut belum sepenuhnya pergi saat kami mengitari desa ini, sayang mendung menutup indahnya momen matahari terbit. Dok; mainbentar

Subuh kami sudah bangun untuk berkeliling desa dan mengejar momen matahari terbit.

Mendung bergelayut di luar sana.

Motor kami pacu menuju area persawahan dan sungai yang tak jauh dari rumah.

Menyusuri jalan perkampungan, melewati kali tempat biasa warga sekitar mandi dan mencuci baju. Masih terjaga kebersihan air kali di daerah ini. Sebenarnya di rumah-rumah penduduk, mereka punya kamar mandi yang memadai untuk kegiatan sehari-hari, tetapi mereka lebih senang mandi di kali.

“Mereka merasa lebih puas kalo mandi di kali, airnya gak abis-abis” teman saya menerangkan. 

Suasana mulai terang tapi, momen matahari terbit yang kami bayangkan tak juga datang.

Mendungnya gak pergi-pergi, brooohhh….!

Ya sudah, akhirnya kami tetap ekplorasi tempat ini, tanpa matahari terbit yang aduhai…

Sawah di kengetan ubud
Jalan paving desa, dimana kamu bisa berolah raga sambil menikmati hijaunya hamparan sawah. Dok; mainbentar

Ada jalan paving block  yang panjang di desa ini, selain jadi akses jalan pnduduk desa, biasanya penduduk di sini juga berolah raga, jalan kaki atau bersepada menyusuri jalan ini, sambil menikmati pemandangan yang indah.

Bersepeda di ubud
Salah satu aktifitas yang bisa kamu lakukan di sini. Bersepeda, mengitari desa dengan pemandangan yang indah. Dok; mainbentar
Jogging di sekitar Ubud
Jogging juga asik dilakukan di sini. Dok; mainbentar

Puas berkeliling, akhirnya kami putuskan untuk kembali ke rumah teman tempat kami menginap. Rencananya dia akan mengajak kami untuk menuju tempat lain, yang tak jauh dari desa ini.

Belum ngopi juga sih, biar makin afdol pagi harinya, ngopi duuluuu….

Berkeliling Desa-desa Sekitar
Setangkup roti dan segelas kopi tandas, sebagai sarapan kami pagi ini.

Sesuai janjinya, teman saya mengajak kami berkeliling desa lain yang tak jauh dari tempatnya. Menuju bajar Tunon, tempat biasa dia berkeliling dengan motor trailnya. Tunon, yang artinya kuburan, dahulu memang desa ini adalah lahan pekuburan yang menjelma menjadi pemukiman warga.

Melewati jalan tanah desa, dengan pemandangan asoy menuju bendungan kecil. Perjalanan ke sini, akan saya upload segera di channel Youtube saya

Parkir dulu di dekat bendungan. Dok; mainbentar

Tadaaaaaaa……..

Dok; mainbentar

Gak ada ksenangan yang paling indah buat jaman digital seperti saat ini, anak-anak yang masih bermain dengan senangnya, di alam, tertawa lepas bersama teman-temannya. Telanjang!!! Bebas dan bersenenang-senang dengan dunianaya. Bukan menunduk menatap layar kecil ponsel orang tuanya.

Selamat merayakan saat ini.

Dok; mainentar

Jangan lupa untuk meninggalkan jejak di kolom komentar dan membagikannya ke media sosial kamu ya.

Sampai jumpa di catatan perjalanan kami yang lain.

Yuk, main bentar……


 

Spread the love

10 Replies to “Wisata Sekitar Ubud Yang Patut Dikunjungi”

  1. Oh, di Kengetan ini… aku sering dengar tapi belum pernah sekalipun main kesana. 😀
    Ubud semakin hari semakin macet ya, itu sih permasalahan utama Ubud yang paling mendesak buat dibenahi. Kalau gak, dampaknya akan signifikan. Buktinya aja sekarang sudah turun peringkat ke peringkat 9.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *