Main kemanapun yang kamu mau! Bentar Aja...

Tempat

Catatan Perjalanan Myanmar 6D5N Day 6-Mandalay (bag 2-selesai)

Suasana masih gelap saat kami melakukan perjalanan di hari kedua di Mandalay. Rencananya, pagi ini kami akan menikmati indahnya matahari terbit di U Bein Bridge.

Menurut informasi yang saya dapat, U Bein adalah nama seorang Mayor yang memerintahkan pasukannya membangun jembatan menggunakan kayu-kayu dari sebuah istana yang telah lama ditinggalkan pada masa kekaisaran Mindon. Dibangun tahun 1800, U Bein Bridge membentang megah diatas Sungai Taungthman.

Jembatan sepanjang 1,2 Km ini, dibangun menggunakan 1000 pilar besar dan ribuan kayu palet bekas istana, U Bein Bridge menjadi jembatan kayu tertua dan terpanjang di dunia.

Diantara Pagi Yang Dingin Di U Bein

Menggunakan jasa taksi yang sama saat hari pertama di Mandalay, kami dijemput di hotel dan langsung menuju U Bein Bridge di Kota Amarapura. Selain mengunjungi jembatan yang jadi salah satu atraksi untuk turis di Mandalay, kami juga berencana ke Inwa.

Udara dingin menusuk banget pagi itu, sama seperti saat saya di Bagan. Dan saya yang lupa membawa buff untuk menutup muka, karena udaranya membuat kulit menjadi kering. Akhirnya saya memakai sarung tangan untuk menghalau dinginnya angin ke muka saya.

Pagi di sini, tak kalah indahnya dengan waktu matahari terbenam. Puluhan burung gagak yang beterbangan dan hinggap di pilar-pilar jembatan yang sudah disiapkan makanan untuk mereka. Jadi tiap pagi, ada seorang bapak-bapak yang memberi makan burung-burung itu.

The men who feed creows at u bein bridge Mandalay

Nah ini bapak yang setiap pagi menyiapkan makanan untuk burung-burung gagak di U Bein Bridge. Dok; mainbentar

Puluhan burung gagak yang menyerbu makanan yang disediakan di pilar-pilar jembatan, menambah keindahan suasana pagi di tempat ini. Dan yang pasti, bikin foto jadi makin keren!

Crow eating at U Bein bridge Mandalay

Burung Gagak di U Bein Bridge-Mandalay. Dok; mainbentar

U Bein Bridge Mandalay

Berkesan misteri banget kan?! Dok; mainbentar

Matahari Itu Terbit Juga

Entah karena dari tadi tertutup mendung atau kami yang memang datang kepagian, walaupun suasana sudah terang tapi dari tadi kami tidak melihat matahari terbit, waktu itu memang sejuk banget juga sih hawanya.

Eih tapi gak berapa lama, saya melihat berkas sinar yang keluar dari balik awan, wah ternyata matahari baru saja terbit. Dan keindahan suasana ini, gak kalah indahnya saat matahari terbenam di U Bein Bridge, yang digandrungi para wisatawan saat berkunjung ke sini.

Sunrise at U Bein bridge

Matahari baru saja terbit di U Bein Bridge. Dok; mainbentar

Lumayan, saya yang dari tadi kedinginan, bisa merasakan hangat dari mentari pagi, hmm..nyaman banget rasanya. Seperti dalam pelukan ibu.

Syaelaah…mendadak melow deh ah.

Drama Itu Adalah Bumbu Perjalanan

Dari atas jembatan, kami sempat turun untuk mengambil gambar, para nelayan yang bersiap menangkap ikan. Berjalan menyusuri pesisir sungai, beberapa sampah menumpuk di sebagian tempat.

U Bein Bridge Mandalay

Saya dan teman saya mengabadikan beberapa moment kegiatan nelayan. Larut dalam asiknya mengabadikan moment, tiba-tiba teman saya berteriak panik. Henponnya hilang!

Sibuk motret, tak sadar, henpon teman saya terjatuh dari kantong celana. Saya juga gak sempat memperhatikan, karena juga sibuk motret.

Kami sama-sama mencari dan menyusuri kembali titik-titik tempat teman saya mengambil gambar, sekiranya henpon terjatuh.

Dan hasilnya nihil. Saya mencoba menelpon nomer lokal yang dipakai, tapi sayang, pemberitahuan henpon tidak aktif yang kami dengar setelah nada sambung.

Makin panik, saya pun menghubungi supir dan mencoba membuka aplikasi ‘find my device’ berbasis GPS. Dari posisi terakhir henpon aktif, kita sebenarnya berada di titik yang sama.

Supir kami menyarankan untuk lapor polisi yang berada di sekitar lokasi kejadian. Diantar lah kami ke kantor polisi.

Polisi di daerah wisata ini, lumayan kooperatif sih, dia bergegas menuju lokasi kejadian dan menanyakan kepada nelayan-nelayan yang ada di sana, apa melihat henpon terjatuh di sekitar tempat mereka. Tapi nelayan-nelayan itu memberikan jawaban yang tak memuaskan kami.

Ah sudah lah, tak mau berprasangka buruk, karena sebelum kami menuju kantor polisi dan sibuk mencari-cari henpon, mereka seperti berkelakar dan tertawa dengan bahasa yang tak kami paham. Semoga intuisi saya salah.

Lagian, teman saya ini, memang sering teledor sih, berapa kali bepergian, sebanyak itulah dia ganti henpon. Hahahaahaha.

Tips : Kamu bisa membawa tas pinggang untuk menyimpan gadget dan perkakas lain yang kecil-kecil. Menyimpan gadget di kantong celana, rawan jatuh tanpa kita sadari. Apalagi saat harus berjongkok mengambil gambar.

Berkunjung Ke Bekas Ibukota Kerajaan Tertua

Inwa-myanmar-Mandalay

Setelah semua drama di U Bein Bridge, bisa diikhlaskan, kami melanjutkan perjalanan kami ke destinasi berikutnya. Inwa.

Dikenal juga dengan nama Ava, Inwa merupakan ibukota tertua yang paling terkenal di Myanmar. Selama 360 tahun Inwa menjadi pusat kekuatan kerajaan dan pusat pemerintahan.

Selama lima abad dari abad ke 14 sampai abad 19 dan akhirnya ditinggalkan pada tahun 1839 setelah serangkaian gempa bumi dahsyat.

Terletak 20km di selatan kota Mandalay, kita harus menyeberang Sungai Mytnge menggunakan perahu bermotor. Tarif pergi-pulang dengan kapal motor ini adalah 1400 Kyats per orang.

Ticket to Inwa Mandalay

Tarif penyeberangan ke Inwa. Dok; mainbentar

Sekarang Inwa menjadi salah satu atraksi untuk turis dan gak boleh dilewatkan jika sedang berkunjung ke Mandalay. Kita akan berkeliling naik delman melihat bekas ibukota tertua ini.

Mabuk Pagoda Di Inwa

Saat turun dari perahu penduduk lokal berebut menjual cinderamata kepada turis yang datang.

Satu hal yang saya sadari, selama liburan di Myanmar. Saat saya menolak secara halus dengan mengatakan “later on, ya” mereka akan menjawab “Ok, i’ll remember you”

Dan benar saja, mereka seperti menagih janji saat saya kembali lagi di tempat penyeberangan.

Souvenir Seller At Inwa Mandalay

Penjual cinderamata di Inwa. Dok; mainbentar

Tempat-tempat menarik di Inwa yang bisa dikunjungi termasuk; Nanmynt Watch Tower ( yang sayangnya saat ini sudah tidak bisa dinaiki lagi karena kondisi tangga yang terbuat dari kayu sudah rusak ), Maha Aungmye Bonzan, dan Biara Bagya yang dikelilingi banyak pohon jati dan stupa. Masuk ke dalam biara yang semuanya terbuat dari kayu ini, kita dikenakan tiket masuk yang bisa dipakai juga untuk masuk ke Royal Palace di Mandalay.

Inwa Mandalay Myanmar

Saya sempat merekam serunya di Inwa dalam video pendek ini:

Dari sini, kami kembali ke hotel, syukurnya masih di jam sarapan pagi, jadi kami masih bisa menikmati jatah sarapan kami 🙂

Mandalay Royal Palace

Istirahat sebentar setelah mandi, dan sedikit mengantuk karena bangun subuh. Menjelang sore, kami berencana mengunjungi Mandalay Royal Palace.

Royal Palace Mandalay

Menurut peta digital di gawai, jarak antara hotel tempat kami menginap menuju Mandalay Royal Palace tidak terlalu jauh. Sekitar 20 menit jalan kaki. Gak masalah, hitung-hitung olahraga juga, yekaaan. Biarpun matahari masih bersinar ganteng, tapi gak berasa capek karena cuaca adem dan banyak angin waktu itu.

Saat menyusuri jalan, kami seneng gituh, ngeliat kerumunan burung dara berebut jagung dari seorang ibu-ibu. Saya rasa, orang-orang Mandalay penyayang burung semua deh!

Melihat banyaknya burung-burung itu kami jadi gemas pengen berfoto. Teteeeep :))

Birds in front royal palace mandalay

Ada satu burung yang sampai bengong, melihat saya bisa terbang. Mungkin dia mengira saya teman sepermainanya. Dok; mainbentar

Kami sempat salah pintu masuk, karena di dekat tempat kami berfoto dengan burung-burung, ada pintu masuk berpenjaga. Rupanya pintu masuk utama untuk wisatawan ada di pintu masuk utama. Jadi kami masih harus berjalan lagi.

Sekilas Tentang Mandalay Royal Palace

Sampai di gerbang utama yang dijaga tentara bersenjata, kami diminta untuk mengisi buku kunjungan dan meninggalkan passport kami.

Jadi jangan lupa membawa passpor saat berkunjung ke sini ya.

Tiket masuk ke biara yang kita kunjungi di Inwa, bisa juga dipakai sebagai tiket masuk ke Mandalay Royal Palace ini. Dibangun antara tahun 1857 dan 1859 Mandalay Royal Palace adalah istana kerajaan terakhir dari monarki di Burma.

Istana ini dibangun sebagai bagian dari Raja Mindon mendirikan ibukota kerajaan baru Mandalay. Istana ini sendiri berada di pusat benteng berdinding tinggi dan dikelilingi parit, bangunan-bangunan di kompleks istana didirikan satu lantai dengan menara-menara untuk menjaga bangunan-bangunan dibawahnya.

Istana ini berhenti menjadi tempat kediaman raja setelah pecah Perang Anglo Burma Ketiga, tahun 1885. Selama perang, pasukan Burma memasuki istana dan menangkap keluarga kerajaan dan Inggris mengubah istana ini menjadi Fort Dufferin.

Selama perang dunia II sebagian besar bangunan istana dihancurkan dan hanya tersisa Royal Mint dan menara pandang yang selamat. Tahun 1990 replika istana dibangun kembali menggunakan bahan-bahan modern.

Memang benar, tak ada yang kita dapat dari perang.

Nyantai dulu lah….

A post shared by mainbentar.com (@mainbentardotcom) on

mandalay royal palace

Setelah menitipkan passpor kita akan diberikan kartu visitor seperti yang tergantung di leher saya. Dok; mainbentar

mandalay royal palace

Sebagian Mandalay Royal Palace dilihat dari atas. Dok; mainbentar

Jam kunjung ke istana ditutup jam 5 sore waktu Mandalay, dan sebagian pengalaman berada di sini sempat saya abadikan dalam video singkat ini:

Memanjakan Lidah Dan Berburu Barang Lucu

mandalay royal palace myanmar

Karena mulai terasa lapar, kami kembali ke hotel dan mencari tempat menikmati sore sekaligus makan malam di Mandalay. Ada restoran di dekat hotel yang ingin kami coba, dari rekomendasi supir kami dan Trip Advisor, restoran ini banyak yang merekomendasikan.

Sebotol bir Mandalay tandas saat kami menikmati sore di Shan Mama Restaurant, sambil menunggu pesanan kami datang. Kami menikmati pemandangan sibuknya koki dan pramusaji bagai atraksi.

Restoran yang menyajikan masakan khas Myanmar ini punya rasa yang enak semua. Restoran street food ini, makin malam makin ramai pengunjung.

Makanannya enak dan temapatnya bersih, pilihan makanannya juga buaanyak bangeet! Dok; mainbentar

Oh iya, kurang lengkap rasanya jika berkunjung ke suatu kota, tidak menikmati suasa malam harinya.

Rupanya di Mandalay ini, ada pasar malam sepanjang jalan utama yang ditutup. Seru banget deh berburu barang-barang di pasar malam.

Kalo udah di pasar malam, kayaknya semua barang yang terlihat, jadi lucu di mata, berasa penting dan harus dibeli!

Lumayan, dari hasil perburuan malam itu, dapet yang beneran lucu dan murah-meriah. Dok; mainbentar

Ah, serunya kami mengakhiri hari ini di Mandalay.

Hari Terakhir Dan Rindu Instan Dengan Myanmar

Esoknya, sebelum ke bandara untuk pulang ke Indonesia via Bangkok, saya sempatkan untuk mengunjungi salah satu landmamark yang tak jauh dari hotel. Clock Tower Mandalay.

Pagi-pagi sambil berolah raga, saya menuju Clock Tower untuk mengabadikan foto di salah satu landmark yang juga menjadi rekomendasi di Trip Advisor. Keluar hotel, saya sempat melihat Giving Ceremony seperti di Luang Prabang, Laos. Dimana para warga mempersembahkan makanan untuk para biksu yang berkeliling membawa cawan tempat makanan.

Berbekal peta digital, gak terlalu susah menemukan landmark ini. Lagian, jalan-jalan di Mandalay ini gampang diingat, hanya angka.

Mandalay in the morning

Dok; mainbentar

Karena siang ini waktunya pulang , jadi saya tidak berlama-lama di Clock Tower. Kami akan terbang ke Indonesia via Bangkok. Akhirnya liburan usai juga, semoga cerita perjalanan ke Myanmar ini, bisa memberikan informasi dan inspirasi untuk kamu ya.

clock tower mandalay

See You Again Myanmar

Spread the love

7 Comments Catatan Perjalanan Myanmar 6D5N Day 6-Mandalay (bag 2-selesai)

  1. Himawan Sant

    Galfok lihat foto burung -burung gagak bisa ngumpul begitu di jembatan ☺ !.
    Kereen …

    Bayangin berfoto di dekat mereka dengan kostum juga serba hitam … waaah kayak film ‘ the crow ‘ , yaaa 😁

    1. mainbentar

      Banget!!! saya juga gak nyangka bisa ketemu puluhan burung gagak itu. Sayang waktu itu kostum kurang mendukung..ahaha, beneran harus pake baju serba hitam biar makin kece fotonya. Makin misterius ala The Crow, ahaha kayaknya kita seumuran ya.. pernah sama-sama nonton The Crow. hihihi

    1. mainbentar

      Iyaa, kalo sore pasti ramai banget! U Bein bridge emang terkenal buat nikmatis sunset. Tapi nikmatin pagi di sini gak kalah seru. Terima kasih sudah sempat mampir ya…

    1. mainbentar

      Hiii Febry, terima kasih sudah mampir ya. Kalo punya waktu sedikit mending ke Bagan sih.. kamu bisa keliling-keling Old Bagan dan New Bagan

    2. mainbentar

      Hi Febry, terima kasih sudah mampir. Kalo kamu punya waktu sedikit mending ke Bagan aja sih…, lebih instagramable..ahahah

Leave A Comment