Main kemanapun yang kamu mau! Bentar Aja...

Tempat

Catatan Perjalanan Myanmar 6D5N Day 5-Mandalay

Subuh kami berangkat ke stasiun kereta menuju Mandalay. Kami sudah memesan tiket kereta saat hari pertama kami di Bagan. Demi menghemat waktu dan tenaga, kami pesan via hotel dengan harga 5000 Kyats per orang.

Masih masuk akal sih harganya dibandingkan kita harus ke stasiun kereta yang entah ada di mana. Karena itu, Mending waktunya dipakai buat eksplorasi kota Bagan.

rowta-rail-station-in-bagan

Masih pagi banget kami sampai di stasiun kereta Rowta di Bagan. Dok; mainbentar

Di tiket dan papan informasi keberangkatan sih tertulis kereta berangkat jam 4 pagi.

Tapi..tapi..tapi..kenyataanya, sampai udah terang belum berangkat juga.

Lumayan, jadi bisa motret stasiun kereta di suasana pagi. Lebih jelas, maklum cuma pake kamera henpon.

Rowta rail station when we heading to Mandalay

Dok; mainbentar

Duh, bodohnya!

Sambil menunggu kereta datang saya sempatkan untuk berlari kecil. Demi menghalau rasa dingin pagi itu.

Ada cerita lucu saat saya menunggu kereta datang, bodoh sih tepatnya.

Saat saya membeli air mineral di warung yang ada di stasiun, si bapak memberikan isyarat angka 4 dengan jarinya, ketika saya mau membayar, dasar perhitungan matematika yang lemah dan masih mengantuk (ngeles 😛 )

Saya memberikan lembaran empat ribu kyats ke bapak warung. Padahal maksud si bapak, empat ratus kyats. Jadi deh saya beli air mineral seharga Rp 40.000 ahahhaha. Dasar lemot yekaan, sadarnya belakangan, dan cuma bisa ikhlas aja :))

Sekitar 30 menit kemudian, kereta kami datang. Bergegas memanggul tas, kami berjalan mencari gerbong dan nomer kursi yang sesuai dengan tiket kami.

Yang namanya bepergian dengan kereta, selalu jadi kesukaan saya. Dari kecil sudah diajak untuk berwisata sepur, jadi semacam nostalgia gitu deh.

Awal perjalanan, kami melihat pemandangan yang seru! Puluhan balon udara terbang seperti yang kami lihat di view pound. Rupanya kami berangkat saat matahari terbit.

Secuil keseruan itu saya dokumentasikan di video ini:

Gimana, seru banget kaaan? Bisa nikmatin pemandangan pagi yang indah di atas rel.

Untuk urusan fasilitas, kereta yang saya gunakan ini sebenernya sudah cukup, tapi kalo mau dibandingkan dengan kereta di Indonesia saat ini, jauh banget lah.

Karena Naik Kereta Adalah Nostalgia

Saya yang sudah menggunakan kereta dari kecil, merasa bersyukur banget dengan kemajuan kereta api Indonesia. Kereta yang saya pakai menuju Mandalay ini, ya lumayan bersih lah, walaupun tergolong kereta lama.

Petugas kereta cukup membantu, saat awal perjalanan kami. Memutar kursi kami untuk tidak duduk berhadapan dengan penumpang lain. Canggung juga yeeekaan, mana bahasanya kita gak paham.

Dengan kursi yang cukup nyaman dan bisa disesuaikan, ditambah ada penyangga kaki, cukuplah untuk perjalanan sekitar 7 jam ke Mandalay ini.

Oh iya, kereta ini masih menggunakan kipas angin untuk penyejuk ruangannya.

Ini lah, kenapa saya bangga banget dengan kereta api Indonesia sekarang, gak ada lagi kereta yang tidak ber-AC! bahkan di kelas ekonomi.

Syukurnya saat liburan kami ke Myanmar, cuaca sedang sejuk. Jadi kami tetap nyaman selama di dalam gerbong, tinggal membuka jendela, dan sejuknya angin bulan Januari menemani perjalanan kami ke Mandalay.

Kereta sempat mampir beberapa menit di sebuah stasiun sebuah kota. Ini juga yang jadi salah satu, serunya bepergian dengan sepur.

Bikin penasaran, apa yang bisa dieksplor dari kota-kota kecil yang disinggahi kereta kita.

Kapan-kapan akan saya lakukan deh, secara acak mengeksplorasi kota kecil yang disinggahi dalam perjalanan dengan kereta.

Yohooo! Akhirnya Mandalay

Setelah menempuh perjalanan sekitar 7 jam dari Bagan, akhirnya sampai juga di Mandalay. Berjalan kaki menuju hotel, karena jarak hotel dari stasiun di peta digital tidak terlalu jauh.

Kesan pertama saya dengan kota terbesar kedua di Myanmar ini, sama seperti kota-kota di Indonesia, hmmm.. kayak Surabaya kali ya. Mandalay, adalah nama yang diambil dari bukit yang jadi tujuan kami di hari pertama ini. Sebagai ibu kota terakhir dari kerajaan Myanmar, kota ini masih menjadi pusat ekonomi atas dan pusat budaya Burma.

Sore ini kita langsung menuju Mandalay Hill untuk menyaksikan pemandangan matahari terbenam kota Mandalay.

Setelah akhirnya kita menemukan hotel tempat kami menginap, kami pun meminta informasi menuju Mandalay Hill dari petugas hotel, mereka menyarankan untuk menyewa taksi yang jadi mitra mereka. Jauh juga sih dari hotel, sekitar 45 menit perjalanan dari Hotel Victory Point-Mandalay.

Gak mandi dulu nih? ah udalah, tancap!

Ongkos taksi yang harus dibayar sebesar 18.000 Kyats untuk ongkos pergi-pulang menuju Mandalay Hill. Berada di ketinggian sekitar 240 m diatas bukit, jalan menuju Mandalay Hill nanjak dan berkelok. Sepanjang perjalanan ke puncak, kami melihat banyak orang yang berjalan kaki atau berolah raga.

Dan pas mobil lagi asik-asiknya nanjak, eih ada oplet yang mogok dong, pas di tanjakan. Rada panik juga karena kita tepat berada di belakang oplet itu, takutnya seperti dalam istilah bahasa Jawa ‘keunduran’ parno juga yekaan.

Syukurnya gak berlangsung lama, jadi kita bisa meneruskan perjalanan. Ngomong-ngomong, banyak juga nih yang datang ke Mandalay Hill dengan berjalan kaki, dari drop point yang ada di bawah. Kalo kita menggunakan transportasi umum atau bus.

Transportasi untuk naik ke Mandalay Hill ada 2 :

Oplet dan Ojek motor. Untuk oplet saya gak tau berapa ongkos per-orang. Tapi, untuk ojek sekitar 2000 kyats per orang.

Oleh karena itu, daripada harus jalan mencapai pintu masuk Mandalay Hill yang ada di puncak, mending naik transportasi yang ada deh. Nanjak banget bok!

Yang Tak Jatuh Di Ufuk Barat

Emang seru sih pas kita udah sampai di tempat paling tinggi Mandalay Hill. Lumayan ramai juga orang-orang yang menunggu momen matahari terbenam. Bolehlah jadi referensi destinasi wisata kamu saat liburan ke Mandalay.

Saya rekam suasananya dalam video singkat ini:

Sambil menunggu matahari benar-benar terbenam, saya sempatkan berkeliling kuil dan menikmati keindahan kuil yang selama dua abad menjadi situs ziarah umat Budha di Burma.

Beberapa kali saya sempat mengambil gambar, dan yang selalu membuat saya tertarik adalah, keberadaan para biksu. Sempat juga saya ambil gambar biksu yang datang ke kuil, seperti pada perjalanan saya menikmati sunset di New Bagan.

Monks at Mandalay Hill

Dok: Mainbentar

Rekam saat saya mengelilingi kuil saya abadikan di sini:

Menurut saya, Menikmati sunset di Mandalay atau di Bagan pada perjalanan saya sebelumnya, punya pesona masing-masing. Kalo di Mandalay ini, matahari terbenamnya cukup unik, jadi matahari tidak benar-benar jatuh seperti yang kita saksikan di Bagan, tapi menggantung di langit dan berubah warna seiring waktu.

Seperti ini:

sunset at mandalay hill

Ini matahari menjelang terbenam. Dok; mainbentar

sunset at mandalay hill

Matahari terbenam di Mandalay Hill. Menggantung di atas horison. Dok; mainbentar

Hampir gelap, kami kembali menuju parkiran tempat supir menunggu. Renacananya, besok kami akan menuju U- bien Bridge dan menyebrang menuju desa wisata dengan banyak kuil.

Setelah makan malam, kami sempatkan berkeliling di daerah sekitar hotel, membeli buah segar, untuk menjaga daya tahan tubuh selama bepergian.

Lelap karena lelah, kami beristirahat untuk persiapan hari kedua kami di Mandalay.

Spread the love

8 Comments Catatan Perjalanan Myanmar 6D5N Day 5-Mandalay

  1. Mas Edy Masrur

    Lumayan nyesel ya harga 400 dibayar 40.000. Menang banyak tuh si bapak penjualnya. Gpp, Mas, amal. Hehehe.

    Perjalanan dengan kereta memang seru. Pemandangan di luar jendela seperti film yang diputar sepanjang perjalanan.

    1. mainbentar

      Hayyy, Mas. Makasih ya udah mampir, iyaaah..anggep sedekah aja, biar makin banyak rejeki buat jalan-jalan lagi yekaaan. Lagian sedekah kan mendahului bala, biar aman selama perjalanan juga (anggap aja gitu). Iyaaa Favorite banget deh kalo bepergian naik kereta…kayak anak kecil diajak pergi sama bapaknya!

  2. Liana

    wah, seru sekali perjalananya kak.
    seneng banget liat foto-fotonya, dan aku suka sekali dengan sunset di Mandalay Hill.
    semoga bisa disegerakan berkunjung ke sana, amin 🙂

    1. mainbentar

      Hi Liana,

      Wah terimakasih loh udah mampir. Mudah-mudahan bisa segera terwujud ya. So far perjalanan kmarin ke Myanmar kemarin menyenangkan, apalagi sewaktu di Bagan, euhh…bikin pengen balik lagi deh. Blog nya saya follow ya, oh iya boleh juga berteman via medsos juga ya, IG ku @mainbentardotcom Twitter di @abimasanu

      1. Liana

        amin amin kak, nanti kalo saya udah sampe Bagan, saya fotoin ya haha
        yuhu, terima kasih banyak sudah di follow.
        IG nya juga sudah saya follow mas 🙂

Leave A Comment