Main kemanapun yang kamu mau! Bentar Aja...

Tempat

Catatan Perjalanan Di Myanmar 6D5N: Day 1 – Yangoon

Myanmar. Negara ke dua terbesar ASEAN ini, jadi tujuan trip agak jauhan pembuka tahun 2018. Untuk cerita perjalanan mainbentar ke Myanmar ini, saya akan membaginya dalam bagian-bagian terpisah, mulai dari berangkat, sampai saat saat mengunjungi 3 kota yang jadi tujuan saya dan partner. Yangoon, Bagan dan Mandalay.

Sempet bingung bakal berangkat atau gak, karena kendala cuti (maklum pekerja). Akhirnya liburan ke Myanmar untuk pertama kalinya, terealisasi juga.
Berbekal informasi dari beberapa blogger yang udah pergi ke Myanmar. Informai untuk things to do dan places to go sudah kami dapat.

Nah, tingggal cari tiket nih..ahahah
Setelah ngubek-ngubek website booking pesawat online, akhirnya….dapet juga. Tiket pesawat yang ramah di kantong dan waktunya paling pas.

Dari beberapa kali ngecek rute terbaik, untuk jam yang paling memungkinkan untuk dijangkau dari segi waktu dan dana uhuy!

Jam 1.30 pagi kami tiba di Kuala Lumpur, lalu memilih restoran untuk mengisi perut lapar kami dan mengisi daya gawai yang udah tinggal sedikit.

Masih ada waktu sekitar 6 jam menuju penerbangan dari Kuala Lumpur ke Yangoon. Lumayan capek juga sih, terbang malam. Tapi kalo udah travelling begini badan juga kudu berkalibrasi dengan semangat yang meledak-ledak membayangkan keseruan di tempat tujuan nanti.

Secangkir teh camomile lumayan bikin santai setelah menahan sakit telinga beberapa saat sebelum mendarat, gilak! ampe mau nangis nahan sakitnya.

Perut sudah terisi, dan henpon udah lumayan penuh, saya pamit sebentar ke teman traveling saya menuju sudut yang pasti saya cari setiap transit di KLIA, smoking area. Tempat ngudud semua bangsa, yang transit kayak saya.

Tiket Dari Kuala Lumpur Ke Yangoon

Dan Drama Itu Selalu Ada

Yang namanya traveling itu agak kurang asik ya kalo gak ada drama yekaan.., mulai dari keberangkatan saya gak pernah bisa melakukan self check in di mesin check in mandiri. Padahal, partner saya selalu berhasil mencetak boarding pass-nya. Sementara saya selalu diminta untuk check in di counter biasa.

Ok lah, gak masalah. Saat check in penerbangan Kuala Lumpur Yangoon pun ada drama kecil. Masih sama, gak bisa check in mandiri melalui mesin, dan saat di counter, mbak-mbak petugasnya kayak curiga gitu melihat negara tujuan saya.

Ditanya detail semua tiket saya sampai pulang lagi ke Bali. Aslik ngeselin sih, mungkin doi mikirnya saya pengungsi Rohinga kali yak?! Jelas-jelas passport saya dari Indonesia. Huft..

Ah sudah lah… keseruan harus tetap berlanjut. Toh akhirnya saya bisa check in dan istirahat bentar di sekitar ruang tunggu keberangkatan, di mana, banyak juga yang tidur-tiduran menunggu jam keberangakatan. Lengkap dengan bantal dan selimut.

Tinggal terbang satu jam lagi, dan kami akan sampai pada serunya liburan di Myanmar.

Estimasi Biaya Berangkat Ke Myanmar

Tiket pesawat dari Denpasar-Kuala Lumpur IDR 741.000/orang

Tiket pesawat dari Kuala Lumpur-Yangoon MYR 364/orang atau sekitar IDR 1,262,352

Makan di Dome Cafe KLIA MYR 49.62 atau sekitar IDR 173,500

Eksplorasi Kota Yangoon

Gak perlu waktu lama untuk mengambil bagasi kami, karena untuk perjalanan kali ini, kami berbekal satu tas carier yang masuk di bagasi.

Pun proses masuk ke negara Myanmar gak pake drama, jadi mulus saat melewati counter imigrasi. Menukar uang ke dalam pecahan Kyat (mata uang Myanmar) adalah yang kami lakukan selanjutnya. 1 USD kami dihargai Kyats 1346 atau kalo dirupiahkan menjadi RP 10.0000

Lumayan banyak sih buat perbekalan kami.

Tukar Uang Di Myanmar

Nilai tukar saat kami sampai di Myanmar. Loket penukaran uang berada di sebelum pintu keluar bandara. Dok; mainbentar

Pas di sebelah counter penukaran uang, ada counter yang menjual kartu perdana lokal, sekalian aja kami membeli kartu perdana, biar tetep eksis yekaaaan.

QMPT nama provider internet yang kami beli, kecepatan stabil. Untuk kuoata internet sebesar 3GB kami dikenakan biaya KYTs 5000, lumayan lah buat eksis dan mengakses peta digital.

Biar gak nyasar bok!

Di depan counter udah berjejer tuh bapak-bapak bersarung yang nawarin taksi menuju hotel. Pertama agak heran juga sih, ada banyak bapak-bapak bersarung di dalam bandara, rupanya itu memang pakaian khas masyarakat Myanmar, yang sering disebut long yi. Syukurnya pas di Kuala Lumpur, sempet nyari info transport menuju hotel, dan dari blog mas Matius Teguh Nugroho inilah saya mendapat info berfaedah soal taksi juga tips and trick-nya.

Mereka dengan ramah, menawarkan taksi menuju hotel, yang akhirnya kami tahu, ternyata bapak-bapak itu hanya calo yang mewarkan jasa, supir taksi sebenernya mah menunggu di luar bandara, tingga ngasih komisi aja ke calo yang membawakan penumpang.

Untuk ongkos taksi menuju hotel yang terletak di sekitar Shwedagon Pagoda, kami dikenakan biya Kyats 1000. Masih cukup wajar untuk harga turis.

Tips; Kalo kamu diminta tip sama si calo, jangan dikasih ya, karena dia sudah dapat komisi dari supir taksi yang dibawakan penumpang.

Masih terlalu pagi, kami sampai di hotel. Akhirnya kami memesan secangkir kopi di restoran hotel untuk menghilangkan sisa kantuk kami. Kami sempatkan untuk memesan bus menuju bagan via staff hotel, ya walaupun harganya pasti sedikit lebih mahal.

Tapi untuk menghemat waktu daripada harus bolak-balik menuju terminal, menurut kami harganya cukup sepadan.

Tidak mau membuang waktu, kami pun menitipkan tas bawaan kami di reception dan langsung dimasukkan ke kamar saat waktu check in kami. Kopi pun sudah tandas, saatnya mengeksplorasi kota.

Rasa lapar karena belum sarapan meresahkan jiwa kami, kami susuri jalan tak jauh dari hotel untuk mengganjal perut lapar kami. Yes! ada Mary Brown. Dan dua potong ayam dengan rempah yang menggugah selera, ludes. Hanya tersisa tulang.

yakaleee tulang juga diembat….

Kami lanjutkan perjalanan menuju Pasar Souvenir yang terkenal di kota Yangoon ini. Bogyoke Aung San Market. Sempat meminta informasi dari manajer restauran, berapa harga taksi menuju kota, dia menyarankan untuk menawar paling tinggi 1500 Kyats. Lebih dari itu, cari taksi lain.

Bogyoke Aung San Market

Di pasar ini banyak menjual souvenir khas Myanmar, mulai dari baju, kain, pernak-pernik. Dan yang paling banyak dijual di sini adalah perhiasan, karena Myanmar cukup terkenal sebagai salah satu negara penghasil batu perhiasan terbaik.

Bogyoke Aung San MArket Yangoon Myanmar

Salah Satu tempat wajib dikunjungi saat kamu berada di Yangoon. Dok; mainbentar

Partner saya membeli beberapa gelang untuk buah tangan. Sudah jadi kebiasaan dia untuk membeli oleh-oleh buat diri sendiri saat traveling. Saya, cuma suka melihat-lihat saja, karena tidak terlalu suka memakai aksesoris macam gelang atau cincin. Pasti hilang entah kemana.

Pasar yang luas banget, untuk ukuran pasar souvenir. Dan saran buat kamu yang mengunjungi tempat ini, jangan sembarangan mengambil gambar pernak-pernik yang dijual. Karena partner saya sempat kena omel salah satu yang punya kios saat mengambi dokumentasi.

Tips: Sebaiknya minta izin dulu saat kamu ingin mengambil gambar di salah satu kios.

Lelah berkeliling pasar, rasa kantuk mulai menggelayut karena tidur yang kurang. Tidak jauh dari pasar, ada mall yang kami yakin, pasti ada coffee shop tempat kami bisa rehat sebentar dan menyesap kopi yntuk mengembalikan tenaga.

Bar Boon Coffee, terletak di Junction City Mall, Bogyoke Aung San Road. Lumayan cozy untuk sekedar rehat dan ngopi bentar. Jadi seger lagi, dan kami pun memilih balik ke hotel, karena kami sudah bisa check in. Kami putuskan untuk beristirahat saja di hotel dan berencana mengunjungi Shwedagon Pagoda di sore hari.

Lelah…, pengen selonjoran banget!

Sore Hari Di Shwedagon Pagoda Yang Magis

Kami terbangun bunyi alarm yang sudah kami pasang di gawai kami. Lumayan istirahat sempurna beberapa jam, membuat kami bugar kembali. Sesuai rencana, kami akan berjalan kaki menuju Shwedagon Pagoda, yang lumayan dekat dari hotel Pleasant View tempat kami menginap. Jika dilihat dari peta digital.

Matahari sudah tidak terlalu terik, jalan kaki pun jadi menyenangkan, hitung-hitung olah raga juga kan, sambil menikmati suasana kota. Cuaca Yangoon waktu itu cukup panas, padahal seharusnya bulan November sampai Februari, cuaca di negara-negara Indochina masih sejuk.

Tapi ya.. lumayan, banyak beer yang bisa bikin adem. Bir Myanmar enak juga looh, by the way.

Sekitar 35 menit kami berjalan menuju Shwedagon Pagoda, dengan nyasar-nyasar dikit gituh. Melewati pasar dimana banyak penjaja makanan radisional dan deretan penjual bunga, menemani perjalan kami. Banyak juga turis-turis yang berjalan kaki seperti kami, menuju Shwedagon Pagoda.

Pucuk pagoda pun mulai terlihat, dan kami bergegas sebelum sunset benar-benar turun. Karena di Shwedagon Pagoda, dengan warna emasnya, terasa magis saat kita berkunjung di waktu matahari terbenam.

Di tengah jalan, ada anak kecil yang mencegat dan sedikit memaksa memebeli kantong plastiknya. Suadah ditolak secara halus, teteap saja keukeuh membuntuti dan agak memaksa, kantong plastiknya dibeli. HArga kantong plastinya 1000 Kyats! Gile juga nih bocah.

Ya itung-itung sedekah dan nolak bala saat traveling, saya beli juga tuh kantong plastik.

Ikhlas….

Sebelum masuk pagoda, kita diwajibkan melepas alas kaki. Dan menaiki tangga yang di kanan kirinya banyak terdapat kios-kios yang menjual souvenir. Waktu itu saya gak sadar, masih memakai kaos kaki saat menuju pagoda, jadi rada heran kenapa orang-orang pada ngeliatin. Ternyata kita harus bertelanjang kaki dari pintu masuk terluar pagoda.

Shwedagon Pagoda

Yang harus kamu perhatikan sebelum masuk ke dalam pagoda. Dok; mainbentar

Setiap pengunjung dikenakan tiket masuk sebesar 8000 Kyats dan wajib meninggalkan sepatu di pos tiket. Ada rasa khawatir sama sepatu kesayangan seandainya nanti hilang atau tertukar dengan pengunjung lain. Tapi ya sudah, percaya saja.

Ada 4 pintu masuk Shewedagon Pagoda, dan kami masuk dari sisi barat. Berkeiling area pagoda yang luas banget, menikmati cantiknya pagoda sampai matahari terbenam. Ada hal yang unik yang saya lihat di pagoda ini, jadi ada segerombolan ibu yang berbaris membawa sapu. Jadi mereka akan dikomando menyapu areal pagoda. Dengan jeda waktu setiap baris.

Ibu-ibu pembersih shwedagon pagoda

Ibu-ibu yang berbaris membersihkan lantai pagoda. Dok; mainbentar

Kami berada di sana sampai matahari menghilang. Suasana di Shedagon Pagoda masih ramai. Lelah berkeliling dan hampir bosan, kami putuskan untuk pulang dan mencari makan malam.

Syukurlah, sepatu saya masih utuh. Pejaga loket rupanya menjaga dengan baik sepatu-sepatu pengunjung yang dititipkan. Lapar dan haus mulai berasa, membeli air minum kemasan di warung yang kami jumpai, walaupun terlihat banyak wadah air minum gratis yang disediakan warga untuk para biksu, demi alasan higienis, kami tak berani ambil resiko.

Sempat nyasar juga sih, dalam perjalanan pulang ke hotel, mana lapar pula. Cuma peta digital yang kami andalkan sebagai penunjuk jalan. Kami susuri jalan kota yang sebenarnya gak susah amat sih buat menuju hotel. Mungkin karean efek lapar, jadinya rada bego gituh.

Blessing in disguise, kami nemu restoran hot pot yang dari penampakannya sih bersih dan ramai. Tanpa ragu, kami masuk ke restoran yang menjual menu suki dimana kita bisa memilih makanan yang akan kita masak di atas kompor yang ada di meja. Pilihan kuah babi atau ayam menjadi bahan dasar makanan ini.

Jelas kami memilih kuah babi, ahahah

Makan malam di myanmar

SK Hot Pot. Dok; mainbentar

2100 Kyats kami habiskan untuk makan malam kami. Luamyan lebay juga sih makan malam segitu buat 2 orang. Tapi emang enak sih makanannya. Jadi sepadan lah.

Dan kami lanjutkan perjalanan menuju hotel yang gak kelar-kelar. Mungkin karena perut sudah terisi, kami pun kembali waras membaca peta digital.

Daan… 20 menit kemudian kami menemukan hotel kami yang sebenernya deket banget dari Shwedagon Pagoda kalau kami mengambil jalan yang direkomendasikan staff hotel ketimbang ikut peta digital.

Karena Yangoon saat itu terasa panas, akhirnya kami memesan satu botol bir Myanmar untuk mendinginkan suasana, sebelum tidur dan mengeksplorasi kota Yangoon.

Myanmar beer

Bir ini enak banget! Mirip banget sama Bir Bintang kalo di Indonesia. Dok; mainbentar

Spread the love

7 Comments Catatan Perjalanan Di Myanmar 6D5N: Day 1 – Yangoon

  1. sue

    Bosque, mu nanya dong. Nov thn ini aku juga mu ke myanmar, karena pengen ngejar festival2nya, cumaaa, belum beli tiket balik sih, karena rencananya mu crossing land border lewat chiang mai. Nah, pertanyaannya, (rombongan yah, gpp?)
    1. pas masuk imigrasi myanmarnya, ditanya tiket balik ga? aku sih kemungkinan emang baliknya bakal lewat bangkok (trs nyambung jakarta) ato laos. (nyambung KL, ke cgk), (belum beli juga sih., karena masih nimbang-nimbang, milih lwat mana. hahaha-ababil).
    2. Aku pake kerudungkan, agak bimbang juga sih. Liat yang kerudungan ga disana? Dengan kondisi politik dan masalah Rohingnya gitu, keliatannya disana sehari-harinya gimana? Soalnyakan kadang pemberitaan media kan lebih β€œhangat”.
    3. Pas januari kemaren, cuaca gimanakah? ada ujan-ujannya ga?
    4. terus, buruan yah update lagi ceritanya duuung, kan akika pengen baca πŸ˜€

    1. mainbentar

      halooo Sue. maap baru bales..

      1. Pas di imigrasi Myanmar sih gak ada masalah, lancar2 aja. Gak ditanya tiket balik juga. Kalo aku sih baliknya via Bangkok.

      2. Kondisi politik sih udah aman ya sist. Banyak juga sih orang indonesia pake kerudung, waktu aku di Bagan. Saranku, kalo kamu booking tiket trus booker nya bukan atas nama kamu, mending di print deh. atau tiket yang tertera nama kamu diunduh di henpon, mengantisipasi gak ada wifi. Saya bermasalah kmarin pas di imigrasi Bangkok. karena bookernya atas nama partner saya, dan teledor gak donlod tiket dan disimpan di henpon. Dibentak-bentak gitu bok. anjay banget!

      3. Paling pas ke negara indochina dari November sampai February. Udaranya sejuk tapi kering. siapkan pelembab muka dan lip balm aja. November-December high season..jadi agak2 mahal. Saya kan pas january, jadi udah gak terlalu mahal.. karena udah masuk normal season.

      4. Duhh iya nih..semoga bisa nulis sesuai jadwal ya…

      makasih ya udah mampir dan kasih apresiasi…

  2. Matius Teguh Nugroho

    Masih mendinglah susah check-in “doang”, gue pernah nyaris ketinggalan pesawat dalam sehari, hahaha xD.
    Itu serius dari KUL ke RGN sekali jalan 1 jutaan? Kok mahal kali bang.
    Aku di sana pake Ooredoo btw.

    Btw penyebutan kuilnya dibenerin, bang. It’s SHWEDAGON, ini penting buat SEO di Google πŸ˜‰

    1. mainbentar

      Hayyyy Nug, makasih loch dah mampir. Iya nih kmarin dapet tiketnya segitu, yang paling pas dengan jatah cuti saya. huvt.

      Owhh iyaaa… salah ya penulisannya, iya nih masih belajar soal keyword buat SEo. Nanti aku edit ya. Makasih banget looh buat inputnya. Soal provider, aku sekenanya aja pas di bandara, sebelahan sama money exchange. Tapi kenceng juga sih internetnya, its ok lah…

      Ajarin dong Nug, tentang SEO, nih ilmunya masih cetek banget….

Leave A Comment