Destinasi Wisata

Catatan Perjalanan 6D5N Myanmar Day 2-Yangoon (Bag 2)

Terik matahari siang itu tak menghalangi kami untuk melanjutkan perjalanan. Menuju tempat yang juga masuk dalam daftar wajib kunjung, saat berada di Yangoon-Myanmar. Chauk Htat Gyi Pagoda, setelah puas berkeliling Inya Lake.

Dengan membayar tarif taksi sebesar Kyats 5000, taksi melaju di jalan kota yang tadi kami lewati saat menuju Inya Lake. Supir kami sempat kebingungan saat kami meyebut tujuan kami, mungkin karena pengucapan kami yang tidak sempurna, lalu kami tunjukkan peta wisata dan menunjuk tempat tujuan kami.

Supir pun mengkonfirmasi dengan lafal bahasa Myanmar. Kami cuma manggut-manggut aja, yang penting doi dah paham kita mau kemana.

Daripada ribet, yeeekan.

Dalam perjalanan menuju Chauk Htat Gyi Pagoda, saya asik menikmati pemandangan sepanjang jalan yang kami lewati. Bangunan-bangunan tua di Yangoon yang apik bersanding dengan bangunan modern, dan beberapa rumah-rumah sewa yang kelihatan usang.

Lamat-lamat saya mendengar suara dengkuran di sebelah saya, rupanya partner saya yang sempat saya lihat asik memainkan henponnya, tertidur.

Mungkin karena terlalu banyak makan gorengan yang tadi kami pesan saat di Inya Lake.

Saya kembali melihat keluar jendela dan menikmati perjalanan. Taksi kami pun berbelok ke jalan kecil yang menanjak, melewati semacam perumahan dan terlihat beberapa biksu berjalan, dugaan saya, di sekitar tempat ini, ada asrama para biksu.

Tak lama, sampailah kami di tempat tujuan.

Terkagum-kagum Melihat Patung Budha Yang Megah Di Chauk Htat Gyi Pagoda

Sleeping Budha At Chauk Htat Gyeee In Yangoon Myanmar

Yang harus kamu perhatikan sebelum masuk. Dok; mainbentar

Sebelum Masuk kedalam, kami diwajibkan untuk memakai long yi atau kain seperti saat kita masuk ke tempat peribadatan. Karena kami berdua memakai celana pendek dan tidak membawa kain, jadilah kami membeli long yi di kios yang menjual beberapa souvenir khas Yangoon.

Kami kehebohan sendiri saat memilih motif long yi untuk kami, karena motif dan warna-warna long yi yang dijual bagus-bagus semua. Long yi dibedakan motif dan warna untuk masing-masing gender. Untuk long yi pria, motifnya lebih kecil dengan warna dasar yang cenderung gelap, sedangkan untuk wanita motif agak besar atau motif mirip-mirip dengan long yi pria, tapi warna dasarnya lebih terang dan terdapat tali pengikat di ujung kain. Sementara long yi pria, persis seperti sarung.

Setelah tawar-menawar dengan mbak penjual, disepakatilah harga yang kami harus bayar untuk long yi yang kami beli sebagai syarat masuk ke pagoda, Kyats 7500 untuk satu long yi.

Tentunya ini juga sebagai oleh-oleh pribadi kami.

Jangan Sebarangan Berpakaian Di Sini

Sebelum masuk, kami harus menitipkan alas kaki kami di tempat penitipan di pintu masuk pagoda. Semua alas kaki termasuk kaos kaki. Kita diwajibkan bertelanjang kaki saat masuk ke pagoda, dan ada beberapa larangan yang wajib diperhatikan, selain larangan bergaya seperti budha saat berfoto. Tidak dikenakan biaya masuk, hanya ongkos petitipan sepatu sebesar Kyats 200 dan sumbangan sukareala yang akan digunakan untuk renovasi dan pendidikan para biksu yang berada di biara Ashay Tawya.

Chauk Htat Gyee Pagoda Notification

Informasi tentang larangan berpakaian ini, wajib untuk kamu. Dok; mainbentar

Didepan pintu masuk pagoda, banyak anjing-anjing yang sepertinya memang sudah lama hidup di sekitar kuil, semacam akamsi gitu dehhh, anjing kampung sini. Dan mereka jinak, karena sudah sering berinteraksi dengan manusia.

Jadi jangan kuatir.

Patung Budha ini selesai dibagun pada tahun 1907 dan mengalami renovasi pada tahun 1966 dengan penambahan ukuran 5 meter. Patung Budha dengan tinggi 16 meter dan panjang 65 meter ini bener-bener terlihat megah. Saat saya mengunjungi tempat ini, banyak juga penduduk kota Yangoon bersembahyang. Mereka membakar dupa untuk persembahan dan memanjatkan doa.

Chauk Htat Gyi Pagoda Yangoon

Megahnya patung Budha tiidur ini membuat saya terkagum-kagum. Dok;mainbentar

Tak mau mengganggu kekhusyukan ibadah, saya berkeliling melihat sudut-sudut lain. Uniknya, di tempat ini hewan dibolehkan berada di dalam gedung peribadatan. Saya melihat beberapa kucing yang sedang tertidur di diantara etalasae barang peninggalan Budha.

Walaupun tanpa pendingin ruangan, tempat ini terasa sejuk dan bikin saya yang udah merasa lelah, iri melihat kucing-kucing ini bisa tidur pulas.

chauk htat gyi pagoda in yangoon

Gemes banget gak siiih ngeliatnya. Dok; mainbentar

Di sudut arah telapak kaki Budha, ada mural yang menceritakan perjalanan budha di Yangoon, dengan visual yang cantik dan penjelasan dengan bahasa Inggris dan bahasa Burma.

Saya terpukau dengan dengan detail dari patung Budha ini, saat saya melihat telapak kaki patung Budha ini, ada ukiran dengan warna emas dan merah yang merepresentasikan 108 karakteristik Budha.

 

Merasa cukup, kami pun beranjak dari Chauk Htat Gyi untuk melanjutkan perjalanan menghabiskan hari di Yangoon. Mengambil beberapa shoot untuk kebutuhan stok foto lalu menuju tempat penitipan sepatu, mengambil alas kaki yang tadi kami titipkan.

Saat saya memakai sepatu, saya menyadari, ternyata anjing-anjing yang ada di pintu masuk pagoda tidak ada yang masuk ke dalam, entah ada perjanjian tak tertulis yang cuma dipahami kucing dan anjing, atau mungkin hanya kucing yang diperbolehkan masuk ke dalam gedung.

Dan satu lagi keunikan dari hewan-hewan yang berada di Chauk Htat Gyi ini, setiap lonceng yang entah berada di mana dibunyikan dan menggema, semua anjing serempak melolong. Sementara, kucing-kucing yang saya lihat tadi, tetap pulas dengan mimpi indahnya.

Diantara Terik Panas Dan Catiknya Pusat Kota Yangoon

Seorang supir taksi mendekati kami, dan langsung menawarkan taksi ke saya dengan bahasa Myanmar, dan saya bengong.

Fix, muka saya udah mirip orang Myanmar.

Dengan sopan, saya jawab dengan bahasa jawa kromo inggil. Makin ngaco lah perbincangan kami :))

Akhirnya kami sepakat untuk menggunakan bahasa yang sama-sama kami mengerti, bahasa kalbu. Jadi dengan hanya saling menatap penuh makna, doi pun mengantarkan kami menuju downtown dengan ongkos taksi sebesar Kyats 4000.

20 menit kemudian kami tiba di downtown.

Supir taksi menurunkan kami persis di depan Maha Bandoola Garden. “Thank you” ucap pak supir sambil melambaikan tangan saat meninggalkan kami.

Matahari sudah tepat di atas kepala, dan saya menyiapkan payung andalan untuk menghalau panasnya matahari.

Di sekitar Maha Bandoola Garden ini, bangunan peninggalan bangsa Inggris masih terlihat cantik bersanding dengan Sule Pagoda dan hotel-hotel berbintang. Kami masuk ke dalam taman yang luas. Beristirahat sebentar diantara pohon-pohon di dalam taman.

Maha BAndula Garden Yangon Myanmar

Maha Bandoola Garden yang gak jauh dari Sule Pagoda

Maha Bandoola Garden Myanmar

Dulunya tempat ini bernama Victoria Park, karena ada patung Ratu Victoria yang diletakkan di tengah taman pada tahun 1856. Taman ini lalu berganti nama menjadi Bandoola Square pada tahun 1935 sebagai refleksi kebangkitan sentimen nasional. Tahun 1948 Burma merdeka dari Inggris, dan dibangunlah monumen ini di tahun yang sama, menggantikan patung ratu Victoria yang dibawa kembali ke Inggris. Dok; mainbentar

Nama Maha Bandoola (banyak juga yang menulis Maha Bandula) adalah seorang jendral tentara kerajaan Burma yang tewas di medan perang saat melawan Inggris pada tahun 1825. Perang itu terkenal sebagai The First Burma War.

Gerah, Lapar, Dan Ketulusan Yangoon

Karena udara yang panas dan dehidrasi yang membuat kerongkongan kami terasa kering, kami melipir mencari toko yang menjual minuman dingin. Syukurnya, banyak mini market di sekitar taman ini.

Melewati gedung-gedung tua yang masih apik terjaga dan difungsikan, selalu membuat saya merasa senang, selain gedung-gedung itu juga menghalau teriknya matahari.

Kami berjalan diantara rasa lapar dari perut keroncongan kami. Seseorang menyapa teman saya, sempat curiga sesaat, ternyata doi ngasih tau kalo tas teman saya terbuka. Duh, teman saya memang agak teledor untuk masalah ini.

Syukurlah orang-orang di Myanmar tulus dan baik hati (sepengalaman saya di Yangoon ya).

Mencari-cari tempat makan berdasar feeling. Tidak ada yang pas, saat kami menyusuri jalan diantara gedung-gedung heritage itu.

Sampai akhirnya kami melewati sebuah mall! Dan demi gerah yang berasa nempel di badan, kami memutuskan untuk masuk ke dalam mall. Sule Junction.

Wusssh…..

Seketika hawa sejuk menyapa dari mesin pendingin mall. Enak banget rasanya. Mallnya gak gede-gede amat sih, tapi kami sudah malas untuk melihat-lihat, fokus kami mengisi perut lapar. Masuk ke salah satu restaurant di dalam mall yang pas, dengan feeling kami.

Sanon restaurant myanmar

Sanon Restaurant. Kami memesan lentil curry dan caramelized pork tak lupa 2 nasi dan 4 gelas bir demi mengembalikan energie yang terkuras. Makan siang yang cukup boros sih, karena untuk menu yang kami pesan total Kyats 18,165 yang harus dibayar. Ya sepadan lah ya sama tempat dan makananannya yang endol! Dok;mainbentar

Makan beres, perut kenyang, hati pun riang.

Kami pun lanjut untuk menyusuri pusat kota ini, melihat-lihat suasana pasar dan pertokoan yang gak jauh beda dengan kota-kota di Indonesia. Sempat kami mencicip warung kopi diantara toko-toko di sepanjang jalan yang kita lewati. Sempat juga kami masuk ke salah satu gang yang isinya kayak rumah produksi film Myanmar dari depan sampai ujung gang.

Tak mau berlama-lama,

Kami bergegas pulang ke hotel, setelah puas menikmati suasana pusat kota. Beristirahat di hotel dan cek ulang barang bawaan kami. Memastikan tidak ada yang tertinggal.

Bagan! Here We Come

Pukul 5 sore, alarm yang sudah kami set di handphone membangunkan kami yang capek setelah berpanas ria di pusat kota. Mandi dan merapihkan sisa perkakas, kami pun menuju receptionis untuk menyelesaikan pembayaran ekstra waktu tinggal kami. Taksi kami sudah dipesan, tinggal menunggu sebentar di lobby hotel.

Taksi kami pun datang, dan yang bikin kagum dari Hotel Pleasant View ini, semua karyawannya dengan tulus mengantar kami menuju taksi. Hotel ini memang terkenal dengan keramah-tamahannya yang tulus. Dari beberapa review yang kami baca di Trip Advisor .

Terminal Bis Aung Mingalar. Tempat bis kami menuju kota tujuan kami berikutnya, Bagan. Banyak review yang menyarankan, perjalanan ke Bagan lebih aman via jalur darat, dibandingkan jalur udara. Karena resiko cuaca yang susah diprediksi dan seringnya kecelakaan pesawat menuju Bagan.

Kalau tidak dalam perjalanan yang terburu-buru, naik bus malam menuju Bagan, lebih menyenangkan. Kita bisa beristirahat di bus dengan fasilitas yang bagus, karena tersedia selimut dan kaki bisa selonjoran, fasilatas hiburan juga ada di bis ini.

Elite express, jasa penyedia layanan bus ke Bagan ini, menjadi pilihan kami setelah mencari informasi dari blog Mas Dhito yang lebih dulu melakukan trip ke Bagan.

Tiket seharga Kyats 20.800 per orang yang kami pesan via hotel, mungkin sedikit lebih mahal dibandingkan kita membeli langsung di terminal. Tapi, demi menghemat waktu dan kita juga gak tau itu terminal berada di mana, memesan via reception hotel adalah pilihan yang bijak.

30 menit kami menunggu, setelah menyempatkan untuk makan malam malam di sekitar terminal yang tak jauh dari shuttle Elite Express. Panggilan dari pengeras suara menginformasikan pada penumpang, bus menuju Bagan sudah siap untuk berangkat. Memisahkan tas yang disimpan di bagasi dan hand carry, kami pun diberi penanda barang dengan mencocokan passpor.

Sebelum berangkat, ada mbak-mbak yang bertugas sebagai pramugari bis ini, memberikan informasi perjalanan yang akan kita tempuh. Kami pun mencoba menerka-nerka informasi apa yang disampaikan oleh mbak-mbak pramugari itu dengan bahasa Myanmar.

Mencoba paham, walaupun gak ngerti juga sih pada akhirnya.

Bus pun mengambil haluan meninggalkan terminal. Bayangan tentang indahnya petualangan di Bagan, sudah ada di kepala kami.

Saya pun membuka handphone dan memasang headset, lagu dari playlist mulai mengalun. Kaki sudah mapan di penyanggahnya, sandaran kursi sudah siap dengan posisi setengah berbaring. Siap menidurkan saya.

Kami memulai perjalanan selama 9 jam menuju Bagan.

Selamat tinggal Yangoon, sampai jumpa lagi…….

Spread the love

3 Comments Catatan Perjalanan 6D5N Myanmar Day 2-Yangoon (Bag 2)

    1. mainbentar

      Dari Yangoon kayaknya gak ada deh..karena referensi-referensi yang saya baca sich..gak ada yang rekomendasikan naik kereta..

Jangan lupa meninggalkan komentar. Karena komentar yang kamu tinggalkan, memberi harapan baik untuk blog ini :)