Destinasi Wisata

Catatan Perjalanan 6D5N Myanmar Day 3 – Bagan (Bag 1)

Sayup-sayup suara wanita dengan bahasa yang entah saya tak paham, memaksa saya membuka mata dari lelapnya tidur. Sepiring nasi goreng dan sebotol bir yang kami minum berdua di terminal Aung Mingalar Yangoon, membuat kami punya amunisi untuk bermimpi sepanjang perjalanan ke Bagan.

Mbak-mbak pramugari bis malam ke Bagan, rupanya menginformasikan bahwa kita akan berisitirahat sebentar, penumpang dipersilahkan turun untuk makan atau ke toilet yang berada di resto rest area. Tak lama, bis kami pun masuk ke area istirahat dan berhenti di tepat di restoran, yang menjadi perhentian penumpang menuju Bagan.

Beda Kota Beda Cuaca

Suasana waktu itu sepi banget, cuma ada dua bis yang berhenti di rest area. Mungkin karena udah dini hari juga kali ya.

Saya melongok ke jendela, restoran lumayan ramai dengan penumpan yang makan atau sekedar merokok dan meluruskan punggung yang pegal selama perjalanan. Sebenarnya saya gak niat untuk makan, karena masih agak ngantuk, dan perut belum lapar-lapar banget, jadi saya turun untuk sekedar merokok dan ke toilet.

Brrrrr…..

Dingin banget! Saya yang turun dari bis tanpa jaket, mendadak naik lagi ke bis, mengambil jaket. Rupanya cuaca di daerah ini (yang pasti dah deket Bagan, lah. sotoy) beda banget ama di Yangoon yang gerah. Langsung menuju toilet untuk cuci muka dan buang air kecil. Melihat penumpang lain yang ngantri di tempat pemesanan, saya jadi penasaran, mereka pada makan apa sih?

Mangkuk-mangkuk seperti soto sudah berjejer di meja saji. Tinggal ditambah kuah kaldu saja jika ada yang memesan. Saya yang belum tau mau makan apa, akhirnya mengambil tempat duduk dan meminta segelas teh hangat. Di Meja juga terdapat menu yang bisa dipesan. Saya lihat-lihat menu dengan banyak foto makanan, tapi keterangannya tetap dalam bahasa Myanmar.

Makan-pun Butuh Ketajaman Intuisi

Cap cip cup belalang kuncup..

Saya memesan makanan menurut intuisi saya, dan hasil curi pandang makanan yang dibawa para pelayan yang dari tadi memabawa mangkuk-mangkuk dengan kuah masih mengepulkan uap, tapi bukan yang tadi berjejer di meja saji.

Ok, saya memesan semangkuk makanan yang saya gak tau nama apalagi rasanya. Cuma berdasar intuisi dan rasa penasaran dengan makanan Myanmar saja.

Restaurant in rest area toward Bagan Myanmar

Ini restoran di rest are saat menuju Bagan. Gak begitu ramai, mungkin karena sudah dini hari juga kali ya. Dok; mainbentar

Sambil menunggu makanan datang, saya menyesap teh hangat yang sudah lebih dulu diantar ke meja saya. Sebatang dulu bisa nih, sambil nunggu makanan. Pikir saya.

Baru juga mau ngambil rokok, ternyata makanan yang saya pesan sudah sampai, cepet juga ya. Ok, mengingat waktu yang terbatas, saya urungkan dulu niatan saya merokok. Dilihat dari tampilannya sih, agak-agak aneh makanan yang tersaji di depan saya. Agak underestimate juga sih. Tapi, pas saya sesap kuahnya, edaan….enak banget ternyata!! Lahap saya habiskan semangkuk makanan yang saya gak tau apa namanya itu sampai ludes.

Myanmar soup at rest area toward Bagan

Don’t judge a book by it cover. Tampilannya emang agak meragukan, tapi rasanya….ulalala…enak banget!!! Dok;mainbentar

Cuma butuh 5 menit saya menghabiskan, makanan ini. Menyessap kembali teh hangat dan buru-buru membayar. Saya sempatkan untuk merokok di luar restoran, sekalian mengawasi bis biar gak ketinggalan. Parno juga yekaan ketinggalan bis di negeri orang.

Suasana makin dingin, dan sebatang rokok tak membantu membuat badan saya menjadi hangat. Saya selesaikan rokok dan lari-lari kecil supaya badan berasa hangat. Cukup membantu sih.

Tak lama, supir bis kami pun naik ke ruang kemudi dan menyalakan mesin. Mbak-mbak pramugari mempersilahkan penumpang untuk segera naik dan melanjutkan perjalanan ke Bagan. Karena perut sudah terisi kembali, saya pun terlelap lagi, beberapa menit setelah bis keluar dari rest area.

Dasar pelor (nempel molor) :))

Ternyata, dari rest area sampai ke terminal Bagan Shew Pyi Highway gak butuh waktu lama. Mbak-mbak pramugari mengumumkan bahwa bis sudah sampai di tempat tujuan kami. Bagan.

Bagai Gula Di Sarang Semut

Jam 05.30 pagi kami sampai.

Setengah mengantuk, saya paksa kesadaran saya, memeriksa kembali barang bawaan supaya gak ada yang ketinggalan. Turun dari bis para supir taksi sudah siap mengerubuti kami yang sibuk mengambil barang bawaan di bagasi. Lugage tag sudah cocok dengan passport kami.

Menggendong tas ransel dan menembus kerumunan sopir taksi yang menawarkan jasa, kami pun cuek untuk mencari toilet di shuttle bus yang kami tumpangi. Beberapa ada yang mengajak saya berbahasa Myanmar, dan saya langsung bilang bahwa saya orang Indonesia.

Tips : Jadi, kalo kamu sampai di Bagan, kerumunan supir-supir taksi itu cuekin aja. Mending cari tempat duduk dulu biar gak kebingungan meladeni supir-supir itu.

Beberapa supir yang tidak fasih berbahasa Inggris pun mundur teratur, tinggal 1 orang yang lumayan mahir berbahasa Inggris menunggui kami keluar dari toilet.

Dia menawarkan jasa taksinya dan memberikan saran untuk menikmati sunrise terlebih dulu, karena mau check in di hotel juga belum bisa. Setelah tawar-menawar, akhirnya kami sepakat untuk harga taksi sebesar 5000 Kyats.

Ternyata anak laki-laki yang menawarkan jasa taksi adalah calo, sama halnya saat saya pertama kali mendarat di bandara internasional Yangoon.

Sempat curiga saat dia tau-tau mau masuk semobil dengan kami. Pasang tampang penuh curiga, akhirnya dia pun mengerti kalo kami merasa tidak nyaman dan memutuskan naik motor sendiri.

Udah siap-siap aja saya, dengan tongsis yang bisa berubah menjadi senjata pengaman kalo lagi kepepet.

Hi Bagan! Show Us What You Have

Sekitar 20 menit kami sampai di pintu masuk ke Old Bagan, dan membayar tiket masuk sebesar 25.000 Kyats per orang. Lumayan mahal sih, tapi tiket masuk ini bisa dipakai selama 5 hari terhitung dari tanggal kedatangan.

Suasana masih gelap, dan saya gak tau dibawa kemana, cuma yakin aja nih sopir gak punya niatan jahat. Akhirnya kami sampai juga di sunrise point, orang-orang sudah ramai mencari spot terbaik untuk mengabadikan gambar.

Saya melihat rombongan biksu yang turun dari bis dan beberapa rombongan turis lainnya, tapi yang paling berisik ya rombongan turis dari China. Teteeep.

Ufuk sudah mulai bercahaya tanda matahari sebentar lagi terbit. Balon-balon udara siap untuk terbang.

Lima belas menit kemudian adalah pagi yang indah sepengalaman hidup saya.

sunrise at Bagan

Pagi yang menakjubkan di hari pertama kami di Bagan

Masih berasa ngantuk dan sedikit butuh istirahat, membuat kami memutuskan untuk menuju hotel. Berharap bisa early check in, ternyata kami belum bisa karena kamar kami belum siap. Lapar tiba-tiba menyelip di antara rasa lelah, daripada jadi gila, kita sarapan aja dulu!

Sarapan di lantai teratas hotel dengan pemandangan yang aduhai, Rp 75.000/orang untuk menikmati beragam pilihan sarapan, menjadi sepadan rasanya.

Selajutnya, kami akan berkeliling kota Bagan Lama dan menikmati indahnya pagoda-pagoda cantik dan menikmati indahnya sunset di salah satu kota warisan dunia ini.

Spread the love

2 Comments Catatan Perjalanan 6D5N Myanmar Day 3 – Bagan (Bag 1)

Jangan lupa meninggalkan komentar. Karena komentar yang kamu tinggalkan, memberi harapan baik untuk blog ini :)